Monday, April 13, 2015

Tawadhu' (Rendah Hati)



TAWADHU’ (kerendahan hati)
Disetiap seseorang yang berakhlak mulia, disanalah terdapat kerendahan hati yang selalu menghiasi dalam setiap perilakunya. Mutawadhi’ (orang yang rendah hatinya) itu bagaikan bintang-bintang yang menghiasi langit terlihat begitu indah dan menyenangkan hati ketika memandang, bisa dilihat kilauan cahayanya dari dasar lautan, namun hakikatnya ia berasal dari atas. Namun sebaliknya, takabbur (sombong) adalah akhlak yang sangat tercela, ia bagaikan asap yang selalu ingin terlihat dikedudukan paling atas, namun hakikatnya ia berasal dari bagian bawah, ketika berada diatas ia pun akan hilang ditiup oleh angin, tidak enak dipandang dan mengganggu penglihatan serta pernapasan. Jadi, orang yang rendah hati membuat dirinya menjadi mulia dan dapat menyenangkan orang lain ketika berada disekitarnya, begitu juga sebaliknya, orang yang sombong menjadikan dirinya hina dan membuat orang lain tidak suka dan muak terhadapnya, sehingga ingin menghindar darinya.
            Orang yang berilmu, semakin banyak ia mendapatkan ilmu semakin tinggi pula kerendahan dirinya, karena ia semakin tau bahwasanya ilmu yang ia dapat sangatlah minim dari pemberian Allah ta’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya : “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Q.S. al-isra’ : 85)
Ada dalam sebuah cerita tentang nabi khidir ‘alaihis salam dengan nabi musa didalam hadist shohih yang diriwayatkan oleh imam bukhori radhiyallahu ‘anhu :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبَكَالِيَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى لَيْسَ بِمُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنَّمَا هُوَ مُوسَى آخَرُ فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ حَدَّثَنَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مُوسَى النَّبِيُّ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ فَقَالَ أَنَا أَعْلَمُ فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ بِهِ فَقِيلَ لَهُ احْمِلْ حُوتًا فِي مِكْتَلٍ فَإِذَا فَقَدْتَهُ فَهُوَ ثَمَّ فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقَ بِفَتَاهُ يُوشَعَ بْنِ نُونٍ وَحَمَلَا حُوتًا فِي مِكْتَلٍ حَتَّى كَانَا عِنْدَ الصَّخْرَةِ وَضَعَا رُءُوسَهُمَا وَنَامَا فَانْسَلَّ الْحُوتُ مِنْ الْمِكْتَلِ { فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا } وَكَانَ لِمُوسَى وَفَتَاهُ عَجَبًا فَانْطَلَقَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِمَا وَيَوْمَهُمَا فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ { آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا } وَلَمْ يَجِدْ مُوسَى مَسًّا مِنْ النَّصَبِ حَتَّى جَاوَزَ الْمَكَانَ الَّذِي أُمِرَ بِهِ فَقَالَ لَهُ فَتَاهُ { أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ } قَالَ مُوسَى { ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا } فَلَمَّا انْتَهَيَا إِلَى الصَّخْرَةِ إِذَا رَجُلٌ مُسَجًّى بِثَوْبٍ أَوْ قَالَ تَسَجَّى بِثَوْبِهِ فَسَلَّمَ مُوسَى فَقَالَ الْخَضِرُ وَأَنَّى بِأَرْضِكَ السَّلَامُ فَقَالَ أَنَا مُوسَى فَقَالَ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالَ نَعَمْ قَالَ { هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رَشَدًا } قَالَ { إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا } يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ { قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا } فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ لَيْسَ لَهُمَا سَفِينَةٌ فَمَرَّتْ بِهِمَا سَفِينَةٌ فَكَلَّمُوهُمْ أَنْ يَحْمِلُوهُمَا فَعُرِفَ الْخَضِرُ فَحَمَلُوهُمَا بِغَيْرِ نَوْلٍ فَجَاءَ عُصْفُورٌ فَوَقَعَ عَلَى حَرْفِ السَّفِينَةِ فَنَقَرَ نَقْرَةً أَوْ نَقْرَتَيْنِ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ الْخَضِرُ يَا مُوسَى مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَنَقْرَةِ هَذَا الْعُصْفُورِ فِي الْبَحْرِ
Artinya : “Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami 'Amru berkata, telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Jubair berkata, aku berkata kepada Ibnu 'Abbas, Sesungguhnya Nauf Al Bakali menganggap bahwa Musa bukanlah Musa Bani Isra'il, tapi Musa yang lain. Ibnu Abbas lalu berkata, Musuh Allah itu berdusta, sungguh Ubay bin Ka'b telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Musa Nabi Allah berdiri di hadapan Bani Isra'il memberikan khutbah, lalu dia ditanya: Siapakah orang yang paling pandai? Musa menjawab: Aku. Maka Allah Ta'ala mencelanya karena dia tidak diberi pengetahuan tentang itu. Lalu Allah Ta'ala memahyukan kepadanya: Ada seorang hamba di antara hamba-Ku yang tinggal di pertemuan antara dua lautan lebih pandai darimu. Lalu Musa berkata, Wahai Rabb, bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Maka dikatakan padanya: Bawalah ikan dalam keranjang, bila nanti kamu kehilangan ikan itu, maka itulah petunjuknya. Lalu berangkatlah Musa bersama pelayannya yang bernama Yusya' bin Nun, dan keduanya membawa ikan dalam keranjang hingga keduanya sampai pada batu besar. Lalu keduanya meletakkan kepalanya di atas batu dan tidur. Kemudian keluarlah ikan itu dari keranjang (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu) ' (Qs. Al Kahfi: 61). Kejadian ini mengherankan Musa dan muridnya, maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari perjalannannya. Hingga pada suatu pagi Musa berkata kepada pelayannya, '(Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa lelah karena perjalanan kita ini) ' (Qs. Al Kahfi: 62). Musa tidak merasakan kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang dituju sebagaimana diperintahkan. Maka muridnya berkata kepadanya: '(Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa menceritakan ikan itu. Dan tidaklah yang melupakan aku ini kecuali setan) ' (Qs. Al Kahfi: 63). Musa lalu berkata: '(Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula) ' (Qs. Al Kahfi: 64). Ketika keduanya sampai di batu tersebut, didapatinya ada seorang laki-laki mengenakan pakaian yang lebar, Musa lantas memberi salam. Khidlir lalu berkata, Bagaimana cara salam di tempatmu? Musa menjawab, Aku adalah Musa. Khidlir balik bertanya, Musa Bani Isra'il? Musa menjawab, Benar. Musa kemudian berkata: '(Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?) ' Khidlir menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku) ' (Qs. Al Kahfi: 66-67). Khidlir melanjutkan ucapannya, Wahai Musa, aku memiliki ilmu dari ilmunya Allah yang Dia mangajarkan kepadaku yang kamu tidak tahu, dan kamu juga punya ilmu yang diajarkan-Nya yang aku juga tidak tahu. Musa berkata: '(Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun) ' (Qs. Al Kahfi: 69). Maka keduanya berjalan kaki di tepi pantai sementara keduanya tidak memiliki perahu, lalu melintaslah sebuah perahu kapal. Mereka berbicara agar orang-orang yang ada di perahu itu mau membawa keduanya. Karena Khidlir telah dikenali maka mereka pun membawa keduanya dengan tanpa bayaran. Kemudian datang burung kecil hinggap di sisi perahu mematuk-matuk di air laut untuk minum dengan satu atau dua kali patukan. Khidlir lalu berkata, Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu bila dibandingkan dengan ilmu Allah tidaklah seberapa kecuali seperti patukan burung ini di air lautan.”[1].
Tawadhu’ adalah salah satu akhlak mulia dan ciri khas bagi orang yang berilmu, karena semakin banyak ilmu yang didapat, maka semakin bertambah pengetahuannya bahwa ilmu yang ia dapat sangatlah sedikit, sebagaimana yang telah diumpamakan oleh nabi khidir ‘alaihis salam kepada nabi musa ‘alaihis salam, yaitu ilmu mereka berdua bagaikan patukan burung di air dalam sebuah lautan. Ilmu tidak ada habisnya, selalu ada yang baru dan selalu ada yang belum diketahui, sehingga diatas seorang yang berilmu pasti ada lagi yang lebih berilmu darinya, karena itu sudah janji Allah ta’ala dalam firmannya yang berbunyi :
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Artinya : “dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui”. (Q.S. yusuf :76)
Dengan tawadhu’ seseorang yang berilmu akan mudah menyampaikan ilmunya kepada yang lain, perakataannya bisa dinikmati oleh para pendengar dan bisa menyentuh kalbu(hati) mereka, selalu dirindukan dan dimuliakan oleh orang lain, karena orang yang tawadhu’ mempunyai tutur kata yang baik, prilaku yang sopan dan tidak pernah meninggikan diri dari hamba Allah yang lainnya. Allah ta’ala berfirman :
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya : “Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Salah satu ciri Orang yang tawadhu’ (rendah hati) akan mendapatkan beberapa derajat disisi Allah ta’ala, selalu mulia dan dimuliakan oleh Allah dan hambanya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ.
Artinya : “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya[2].
Bahkan tawadhu’ adalah salah satu wahyu yang diperintahkan allah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Artinya : “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain”[3].
Orang yang tawadhu’ mungkin terlihat rendah atau kecil, namun sebaliknya sesungguhnya dia sangat tinggi dan mulia. Sebagaimana dalam syair dikatakan :
تواضع تكن كالنجم لاح لناظر # على صفحات الماء وهو رفيع,
ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه # إلى طبقات الجوّ وهو وضيع.
Artinya : “Rendah hatilah laksana bintang yang kelihatan rendah bagi yang melihatnya#
Pada permukaan air padahal ia sendiri tinggi di atas sana, Janganlah anda bagaikan asap membumbung tinggi dengan sendirinya# Kelapisan-lapisan udara padahal ia sendiri hina (tidak ada apa-apanya)[4].
Dan disyair yang lain juga memerintahkan untuk bersikap tawadhu’ dalam kehidupan bermasyarakat. Karena diakhir hayat, semua orang pasti berada didalam tanah atau tempat injakannya manusia, yaitu bumi.
ولا تمش فوق الأرض إلّا تواضعا
فكم تحتها قوم هم منك أرفع
فإن كنت في عزّ وخير ومنعة
فكم مات من قوم هم منك أمنع
Artinya : “Janganlah engkau berjalan diatas bumi ini kecuali dengan ketawadhu'an.
Berapa banyak orang yang berada dibawah bumi (mayat) dari golonganmu, sedangkan mereka (dulunya) lebih tinggi (kedudukan dan kekuasaan nya) daripada engkau.
Jika engkau berada dalam kekuasaan, kebaikan dan benteng yang kokoh.
Maka berapa banyak orang yang telah mati sedangkan dia lebih kokoh (pertahanan nya) daripada dirimu”[5].
Bahkan sebagaimana yang sudah diketahui, makhluk yang paling mulia sejagat raya dan disisi Allah ta’ala serta hamba-hambanya yaitu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selalu bersikap tawadhu’ dan tidak mau berlebih-lebihan dalam penghormatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Artinya : “Janganlah kalian berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani yang berlebihan kepada Isa bin Maryam. Sesungguhnya Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah; hamba Allah dan Rasul-Nya[6].
Sayyidah ‘aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan tentang ketawadhu’an rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikan dan menyayangi keluarganya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَىْهِ وَ سَلَّمَ يَكُونُ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ- فِى خِدْمَةِ أَهْلِهِ- فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian dalam membantu urusan keluarganya. Apabila telah tiba waktu sholat, beliau bergegas pergi menuju sholat”[7].
Dalam bentuk kasih sayang terhadap keluarganya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan apa yang bisa beliau kerjakan tanpa harus menyuruh orang lain, seperti menjahit baju dan sandal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh sayyidah ‘aisyah radhiyallahu ‘anha :
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: "مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ"
Artinya : “Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember[8].
 Bahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membantu kebutuhan seorang hamba sahaya/budak untuk keperluan sang hamba sahaya tadi. Sebagaimana diriwayatkan oleh anas bin malik radhiyallahu ‘anhu berkata :
« إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ »
Artinya : “Pernah ada seorang budak yang berada dikota Madinah, menggandeng tangan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu diajak pergi untuk membantu urusannya[9].
Dan pernah juga rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh yang baik, yaitu memberikan salam kepada kumpulan anak-anak kecil. Seketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sekumpulan anak kecil, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka[10].
Dan yang terakhir tawadhu’ adalah kerendahan hati hanya karena allah ta’ala, tunduk dan patuh atas perintahnya, memandang sesamanya dengan kelebihan-kelebihan tertentu, sehingga ia pun memuliakan hamba Allah ta’ala yang lainnya, yang demikian ia akan mendapatkan kemuliaan tersendiri dan sangat berbeda bagi orang yang merendahkan dan menghina dirinya dikarenakan ingin mendapatkan kenikmatan dunia. Seperti karyaman yang merendahkan dirinya dihadapan atasannya untuk mendapatkan gaji yang lebih atau sesuatu yang ia inginkan.
Semoga kita mempunyai akhlak kerendahan hati yang tulus hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala dengan diiringi ilmu yang bermanfaat dan berkah. Amiin…


[1] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 3401,
diambil dari http://wahdahmakassar.org/Hadits%20Web%20Bukhari%20Muslim/bukhari/Ilmu.html
[2] hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 2588
[3] hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 2865
[4] Dhiyaul anwar fi fadhlil ‘ilmi wal ‘ulamail akhyar hal 85, karangan al ‘allamah al’umdah al bahhamah
[5] Fardhu thalabil ‘ilmi hal 134, karangan imam abi bakar muhammad bin husein al ajary
[6] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 3445
[7] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 676
[8] (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3602--memiliki-sifat-tawadhu.html
[9] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 6072
[10] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 6247 dan hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 2168

Sopan Santun dan Bijak



SOPAN SANTUN DAN BIJAK
Sopan santun dan kasih sayang adalah akhlak yang sangat baik dan mulia, yang demikian harus dimiliki oleh setiap individu sebagai makhluk Allah subhanahu wa ta’ala. Seoarang guru atau orang yang berilmu harus santun kepada anak didiknya yang demikian akan dijadikan contoh bagi seorang pelajar dan begitu juga sebaliknya. Bahkan Allah ta’ala sendiri maha santun kepada hambaNya. Sebagaiamana Allah ta’ala berfirman :
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Artinya : “Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (Q.S. al-baqarah : 235)
Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersikap sopan santun dalam berdakwah, bukan dengam kekerasan atau paksaan. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. an-nahl : 125)
Dan diayat yang lain, Allah ta’ala berfirman :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Artinya : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf(kebaikan), serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. (al-a’raf : 199)
Sudah menjadi keharusan sebagai orang yang berilmu untuk bersikap tenang dan santun kepada sesama, karena orang berilmulah yang akan dijadikan contoh dan panutan oleh ummat atau masyarakat umumnya. Dan sesungguhnya ilmu itu harus dibarengi dengan sopan santun dan tenang[1]. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh abu hurairah radhiyallahu ‘anhu :
عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اُطْلُبُوااْلعِلْمَ وَاطْلُبُوْا مَعَ السَّكِيْنَةِ وَاْلحِلْمِ وَلِيْنُواْ لِمَنْ تُعَلِّمُوْنَهُ وَلِمَنْ تَعَلَّمْتُمْ مِنْهُ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ جَبَابِرَةِ اْلعُلَمَاءِ فَيَغْلِبُ جَهْلُكُمْ عِلْمَكُمْ
Artinya : “Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu. bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: tuntutlah ilmu dan carilah ilmu yang menentramkan dan sopan. Dan hormatilah guru yang mengajarkan ilmu kepadamu dan murid-muridnya. Dan janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang sombong kepada ulama, sebab orang-orang yang bodoh akan meremehkan pengetahuanmu”[2].
عن عمر بن الخطاب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: قال أخي موسى عليه السلام يا رب أرني الذي كنت أريتني في السفينة فأوحى الله إليه: يا موسى إنك ستراه فلم يلبث إلا يسيراً حتى أتاه الخضر في طيب ريح وحسن ثياب البياض فقال: السلام عليك يا موسى بن عمران وإن ربك يقرأ عليك السلام ورحمة الله فقال موسى: وهو السلام ومنه السلام وإليه السلام والحمد لله رب العالمين الذي لا أحصي نعمه ولا أقدر على شكره إلا بمعونته ثم قال موسى: إني أريد أن توصيني بوصية ينفعني الله بها بعدك قال الخضر: يا طالب العلم إن القائل أقل ملالة من المستمع فلا تمل جلساءك إذا حدثتهم واعلم أن قلبك وعاء فانظر ماذا تحشو به وعاءك واعزف الدنيا وانبذها وراءك فإنها ليست لك بدار ولا لك فيها محل قرار وإنها جعلت بلغة للعباد ليتزودوا منها للميعاد ويا موسى وطن نفسك على الصبر تلقى الحلم وأشعر قلبك التقوى تنل العلم ورض نفسك على الصبر تخلص من الإثم يا موسى تفرغ للعلم إن كنت تريده فإنما العلم لمن تفرغ له ولا تكونن مكثاراً بالمنطق مهذاراً فإن كثرة المنطق تشين العلماء وتبدي مساوي السخفاء ولكن عليك بذي اقتصاد فإن ذلك من التوفيق والسداد واعرض عن الجهال واحلم عن السفهاء فإن ذلك فضل الحكماء وزين العلماء إذا شتمك الجاهل فاسكت عنه سلماً وجانبه حزماً فإن ما لقي من جهله عليك وشتمه إياك أعظم وأكثر يا ابن عمران لا تفتحن باباً لا تدري ما غلقه ولا تغلقن باباً لا تدري ما فتحه يا ابن عمران من لا ينتهي من الدنيا نهمته ولا تنقضي فيها رغبته كيف يكون عابداً من يحقر حاله ويتهم الله بما قضى له كيف يكون زاهداً هل يكف عن الشهوات من قد غلب عليه هواه وينفعه طلب العلم والجهل قد حواه لإن سفره إلى آخرته وهو مقبل على دنياه يا موسى تعلم ما تعلم لتعمل به ولا تعلم لتحدث به فيكون عليك بوره ويكون لغيرك نوره يا ابن عمران اجعل الزهد والتقوى لباسك والعلم والذكر كلامك وأكثر من الحسنات فإنك مصيب السيئات وزعزع بالخوف قلبك فإن ذلك يرضي ربك واعمل خيراً فإنك لا بد عامل سواء قد وعظت إن حفظت. فتولى الخضر وبقي موسى حزيناً مكروباً. رواه الطبراني في الأوسط وفيه زكريا بن يحيى الوقاد قال ابن عدي كان يضع الحديث.
Artinya: Dari Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘Musa saudaraku ‘alaihis salam’ berdoa ‘ya Rabb! Tunjukkan padaku orang yang pernah Kau tunjukkan padaku di dalam perahu’.”
Allah pun memberi wahyu dia: “Ya Musa! Sungguh kau akan segera melihat dia.”
Tak lama kemudian Nabi Khidhir datang padanya ‘alaihimas salam dengan keharuman yang semerbak dan busana putih yang bagus, untuk mengucapkan: “Assalamu alaika ya Musa bin Imran! Sungguh Tuhanmu berfirman padamu ‘alaika Assalamu warahmatullah’.”
Musa berkata, “Dialah Assalaam. Dari Dia pula Assalaam. Dan kepadaNya pula Assalaam. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam yang kenikmatanNya tak mungkin bisa saya hitung. Saya tak mungkin bisa bersukur kecuali karena pertolonganNya.”
Lalu berkata pada Khidhir ‘alaihis salam: “Saya ingin kau memberi saya wasiat yang bermanfaat padaku setelah kau.”
Khidhir berkata, “Hai orang yang mencari ilmu! Sungguh pembicara lebih sedikit bosannya daripada pendengar. Maka jika kau berbicara jangan membuat bosan pada para pendengar! Ketahuilah bahwa hatimu adalah wadah. Maka pelajarilah yang akan kau isikan pada wadahmu! Anggaplah dunia ini sebagai permainan! Buanglah di belakangmu! Karena dunia bukan tempatmu! Dan bukan tempat tinggalmu yang nyaman! Dunia dicipta sebagai bekal para hamba untuk hari yang dijanjikan!
Hai Musa! Tempatkan dirimu pada kesabaran! Niscaya kau akan menjadi bijaksana! Sadarkan hatimu agar bertaqwa! Niscaya kau mendapatkan ilmu! Buatlah hatimu ridho mengamalkan kesabaran! Niscaya kau keluar dari dosa!
Hai Musa! Jika kau membutuhkan ilmu, longgarkanlah waktu untuk mengaji! Sungguh ilmu hanya akan didapatkan oleh orang yang mengaji dengan serius! Jangan sekali-kali berbicara terlalu banyak! Banyak berbicara membuat cacat pada ulama, dan menunjukkan terbatasnya ilmu mereka! Tetapi berbicaralah yang panjangnya sedang! Karena demikian itu sesuai dengan kehendak Allah (taufiq) dan amalan yang tepat!
Ampunilah orang-orang bodoh! Dan bijaklah pada orang-orang bebal! Karena demikian itu utama bagi para hakim dan hiasan indah bagi para ulama! Jika kau dicaci oleh orang bodoh, maka diamlah dengan tidak menyakiti perasaannya! Karena kebodohannya bisa membuat dia mencaci-maki kau dengan lebih banyak dan lebih menyakitkan.
Hai putra Imran! Jangan membuka pintu yang kau tak bisa menguncinya! Dan jangan menutup pintu yang kau tak bisa membukanya!.
Hai putra Imran! Orang yang berambisi menguasai dan terlalu mencintai dunia, apa bisa menjadi hamba Allah? Orang yang tidak bisa bersukur dan dan menyangka jelek pada Allah, apa mungkin bisa zuhud?. Apakah mungkin orang yang tak mampu mengalahkan hawa nafsunya, bisa mengendalikan syahwatnya? Apakah mengajinya akan bermanfaat jika dia dibalut oleh kebodohannya? Karena mestinya dia pergi ke arah akhirat, namun dia justru berjalan menuju dunia?.
Hai Musa! Pahamilah yang kau pelajari untuk kau amalkan! Jangan belajar hanya untuk diceritakan! Karena kau akan rusak! Sementara yang kau ajar mendapatkan nur!
Hai putra Imran! Jadikanlah zuhud dan taqwa sebagai busanamu! Ilmu dan dzikir sebagai bahan pembicaraanmu! Perbanyaklah perbuatan baik! Karena kau juga berbuat kesalahan! Goncangkan hatimu agar takut Allah! karena demikian itu membuat Tuhanmu ridho! Lakukanlah kebaikan! Karena kau juga melakukan kejelekan! Sungguh kau telah diberi nasehat, jika kau memperhatikan!’.”
Khadir ‘alaihis salam pun berpaling (pergi); dan Musa ‘alaihis salam tinggal di tempat dengan susah dan sedih[3].
Ada beberapa nasehat yang dapat kita pelajari :
Nasehat pertama : tingkat kebosanan para pendengar lebih cepat dari pada pembicara, dan dunia adalah bekal untuk akhirat kelak.
Nasehat kedua : dengan sabar seseorang bisa bijaksana, dengan bertaqwa kepada Allah ta’ala akan mudah untuk mendapatkan ilmu, dan dengan ridha dan sabar atas segala hal akan terhindar dari dosa.
Nasehat ketiga : ilmu itu didapat dengan belajar dan sungguh-sungguh, berbicara secukupnya saja dan terlalu banyak bicara akan menunjukkan kekurangannya, bijak dan santunlah kepada orang bodoh, karena yang demikian adalah lebih baik. Dan sayyidina ‘Ali bin abi thalib radhiyallahu ‘anhuma juga berkata :
إِذَا تَمَّ الْعَقْلُ قَلَّ الْكَلَامُ
Artinya : “Jika akal sempurna sedikit bicara”[4].
تَرْكُ الْجَوَابِ عَلَى الْجَاهِلِ جَوَابٌ
Artinya : “Tidak menjawab atas orang yang bodoh itu adalah jawaban”[5].
Nasehat keempat : jangan melakukan sesuatu sebelum menguasainya atau belajarlah dahulu sebelum berbicara.
Nasehat kelima : jangan berlebih-lebihan dalam mencintai dunia, selalu bersyukur dan berprasangka baik kepada Allah ta’ala, zuhud terhadap dunia, selalu berusaha melawan hawa nafsu, belajar untuk pintar (mempelajari sesuatu yang baik dan bermanfaat) dan dunia adalah jalan untuk menuju akhirat.
Nasehat keenam : menuntut ilmu untuk diamalkan bukan untuk jadi pameran.
Nasehat ketujuh : jadikanlah zuhud dan taqwa sebagai pakaian (perhiasan kehidupan), jadikanlah ilmu dan dzikir sebagai perkataan, memperbanyak dan selalu berbuat baik untuk menghapus segala kesalahan, taqwa kepada Allah ta’ala sehingga bisa mendapatkan ridhaNya.
Sikap bijak dan santun adalah salah satu ciri dan akhlak orang yang berilmu, merasakan ketenangan dalam hidup karena ia bisa menghadapi segala masalah dengan tenang dan bijak, mendapatkan kemuliaan disisi Allah dan hambanya karena sikap sopan santunnya kepada sesama. Bahkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada sang guru untuk santun kepada muridnya, ramah dan tidak lekas marah, sebagaimana yang telah dialami oleh sang guru ketika belajar kepada gurunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
اطلبوا العلم واطلبوا مع العلم السكينة والحلم لينوا لمن تعلمون ولمن تتعلمون منه ولا تكونوا من جبابرة العلماء فيغلب جهلكم حلمكم
Artinya : “Tuntutlah ilmu dan tuntutlah bersama ilmu itu, ketenangan dan hilmun (tidak lekas marah)! Lemah-lembutlah kepada orang yang kamu ajar (kepada muridmu) dan kepada orang, dimana kamu belajar padanya (kepada gurumu)! Janganlah kamu termasuk kaum ulama yang gagah perkasa (angkuh)! Maka kebodohanmu akan mengalahkan ke-tidak-lekas-marahan- mu”[6]. Jadi dengan takabbur dan gagah perkasa (angkuh) yang dimaksud akan mengundang kemarahan atau cepat marah. Dan dalam do’anya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :
اللهم أغننى بالعلم وزينّى بالحلم  و أكرمنى بالتقوى  وجملنى بالعافية. اللهم طهر لسانى من الكـذب  وقلبى من النفاق  و علمى وعملى من الرياء  و بصرى من الخيانة  انك تعلم خائنة الأعين وما تخفى الصدور.
Artinya : “Ya Allah, berilah kami kekayaan ilmu pengetahuan, hiasilah kami dengan kelapangan hati (santun), muliakanlah kami dengan takwa, dan berilah kami kecantikan dengan kesehatan. Semoga engkau sucikan lidah kami dari dusta, hati kami dari sifat munafik, ilmu dan amal kami dari sifat riya’, dan  mata kami dari sifat khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui khianatnya mata dan Engkau mengetahui segala sesuatu  yang tersembunyi di dalam hati”[7].
Dan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kepada para sahabat beliau untuk bersikap santun, sabar atau murah hati agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah ta’ala. Sebagaimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ابتغوا الرفعة عند الله, قالوا : و ما هي يا رسول الله ؟ فقال : تصل من قطعك وتعطي من حرمك وتحلم عمن جهل عليك
Artinya : “Carilah ketinggian pada sisi Allah !”. Para shahabat bertanya: “Apakah ketinggian itu, wahai Rasulu'llah ? Engkau sambung silaturrahim dengan orang yang memutuskan silaturrahim dengan engkau. Engkau berikan kepada orang yang mengha- ramkan pemberian (tidak mau memberi) kepada engkau. Dan engkau tak lekas marah kepada orang yang congkak (sombong) kepada engkau”[8].
Semoga kita bisa selalu santun dan bijak dalam segala hal kepada sesama dalam mengikuti ajaran rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, sehingga mendapatkan kemuliaan disisi Allah ta’ala dan hambanya. Aamiin…


[1] Adabul ‘alim wal muta’allim hal 70, karangan Dr. fadhil ‘abbas ‘ali an-najjady
[2] Diriwayatkan oleh ibnu ‘adi di al-kamil fid dhu’afa 4/335 (dhaif)
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Thabarani di dalam Al-Ausath. Hanya di dalam isnadnya ada Zakariya bin Yachya Al-Waqqad, yang menurut Ibnu Adi: “Dhoif.”, http://mulungan.org/index.php/component/content/frontpage/frontpage?start=175
[4] Mu’jam hikmatul ‘arab hal 285, mahfudzhat KMI kelas 1
[5] Mu’jam hikmatul ‘arab hal 750, mahfudzhat KMI kelas 1
[6] Mukhtashar ihya ‘ulumuddin hal 204 karangan abu hamid Muhammad bin muhammad al-ghazali, diriwayatkan oleh al-‘araqi di al mugni ‘an hamlil safari 3/172
[7] Mukhtashar ihya ‘ulumuddin hal 204 karangan abu hamid Muhammad bin muhammad al-ghazali, diriwayatkan oleh al hindi di kanzul ‘amal 3663 dan suyuthi di jam’ul jawami 9745
[8] Mukhtashar ihya ‘ulumuddin hal 204 karangan abu hamid Muhammad bin muhammad al-ghazali, diriwayatkan oleh al hindi di kanzul ‘amal 21311