ILMU YANG BERMANFAAT
Sebagai thalibul
‘ilmu (penuntut ilmu) dia harus mengetahui apakah yang ia pelajari itu
bermanfaat buat dirinya sendiri atau orang lain, atau kebalikannya yang bisa
mendatangkan bahaya bagi dirinya atau bahaya bagi orang lain. Dengan mengetahui
manfaat dari ilmu yang ia pelajari, perjalanan dalam menuntut ilmunya pun tidak
akan sia-sia, umur yang sudah ia lewati dalam menuntut ilmunya pun tidak
terbuang begitu saja.
Ilmu terbagi atas dua: pertama, ilmu yang bermanfaat dan kedua,
ilmu yang berbahaya.
Ilmu yang bermanfaat terbagi atas dua bagian:
1.
Yang bermanfaat secara terus menerus
baik semasa didunia dan diakhirat kelak, yaitu ilmu agama/syari’at.
2.
Yang bermanfaat untuk didunia saja,
seperti belajar ilmu keindustrian, yang demikian adalah ilmu duniawi.
Dan ilmu syari’at terbagi atas dua :
a.
Ilmu tauhid adalah ilmu utama, dan
b.
Ilmu cabang-cabangnya, seperti fiqih
dan lain-lain.
Sedangkan ilmu yang berbahaya adalah seperti ilmu sihir dan
sejenisnya yang demikian hokum mempelajarinya dan mengajarkannya adalah haram[1].
Ilmu yang bermanfaat adalah yang diamalkan sehingga bisa memberi
manfaat bagi dirinya dan orang lain, ilmu yang bermanfaat membuat seseorang
bertambah dekat dengan Allah dengan melaksanakan segala perintahNya dan
meninggalkan segala laranganNya, tujuannya bukan untuk berbangga diri atau
sombong, tidak membuat dia gila dengan kenikmatan dunia, tidak mencari martabat
atau tahta. Imam Syafi’i memiliki nasehat berharga di mana beliau berkata :
العلم ما
نفع، ليس العلم ما حُفِظ
Artinya
: “Ilmu
adalah apa yang bermanfaat bukan apa yang dihafalkan”[2].
Seorang
muslim sangat dianjurkan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, karena dengan
ilmu yang bermanfaat seseorang bisa bahagia dunia akhirat, pahalanya terus
mengalir selama ilmu yang ia ajarkan terus diamalkan oleh dirinya sendiri atau
orang lain walau pun ia sudah wafat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
عَنْ
أبِى هُرَيْرَة أنَّ رَسُول الله قَالَ:
إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ
Artinya
: “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah
amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya
atau anak yang shalih yang mendo’akannya”[3].
Ilmu bermanfaat yang terus mengalir pahalanya
sangat banyak, contohnya : mengajarkan Al-qur’an dan al-hadist, mengajarkan
tata cara shalat yang benar, dan lain-lain yang apa bila diajarkan orang yang
diajarkan mengamalkannya.
Cara
mendapatkan ilmu yang bermanfaat haruslah bersungguh-sungguh, jangan
beranggapan remeh, apalagi bermalas-malasan. Dari kesungguhan dalam mendapatkan
ilmu, bisa dilihat dari cerita sahabat yang belajar kepada rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dajjal,
ذَكَرَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ فَخَفَّضَ
فِيهِ وَرَفَّعَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ فَلَمَّا رُحْنَا
إِلَيْهِ عَرَفَ ذَلِكَ فِينَا فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ
اللَّهِ ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ غَدَاةً فَخَفَّضْتَ فِيهِ وَرَفَّعْتَ حَتَّى
ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ فَقَالَ غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي
عَلَيْكُمْ إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ وَإِنْ
يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيجُ نَفْسِهِ وَاللَّهُ خَلِيفَتِي عَلَى
كُلِّ مُسْلِمٍ إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ
بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ
فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ إِنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّأْمِ
وَالْعِرَاقِ فَعَاثَ يَمِينًا وَعَاثَ شِمَالًا يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا لَبْثُهُ فِي الْأَرْضِ قَالَ أَرْبَعُونَ
يَوْمًا يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ
أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَلِكَ الْيَوْمُ
الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ قَالَ لَا اقْدُرُوا لَهُ
قَدْرَهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا إِسْرَاعُهُ فِي الْأَرْضِ قَالَ
كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيحُ فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوهُمْ
فَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ
وَالْأَرْضَ فَتُنْبِتُ فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ أَطْوَلَ مَا كَانَتْ
ذُرًا وَأَسْبَغَهُ ضُرُوعًا وَأَمَدَّهُ خَوَاصِرَ ثُمَّ يَأْتِي الْقَوْمَ
فَيَدْعُوهُمْ فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ
فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ لَيْسَ بِأَيْدِيهِمْ شَيْءٌ مِنْ أَمْوَالِهِمْ
وَيَمُرُّ بِالْخَرِبَةِ فَيَقُولُ لَهَا أَخْرِجِي كُنُوزَكِ فَتَتْبَعُهُ
كُنُوزُهَا كَيَعَاسِيبِ النَّحْلِ ثُمَّ يَدْعُو رَجُلًا مُمْتَلِئًا شَبَابًا
فَيَضْرِبُهُ بِالسَّيْفِ فَيَقْطَعُهُ جَزْلَتَيْنِ رَمْيَةَ الْغَرَضِ ثُمَّ
يَدْعُوهُ فَيُقْبِلُ وَيَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ يَضْحَكُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ
إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ
شَرْقِيَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ
مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ
جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلَا يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلَّا
مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِي حَيْثُ يَنْتَهِي طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى
يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِي عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمْ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ
وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ
أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لَا يَدَانِ
لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللَّهُ
يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ
أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ
آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ
اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ
خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمْ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللَّهِ
عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ
فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللَّهِ
عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الْأَرْضِ فَلَا يَجِدُونَ فِي الْأَرْضِ مَوْضِعَ
شِبْرٍ إِلَّا مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللَّهِ
عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللَّهِ فَيُرْسِلُ اللَّهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ
الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُرْسِلُ
اللَّهُ مَطَرًا لَا يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ فَيَغْسِلُ
الْأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْأَرْضِ أَنْبِتِي
ثَمَرَتَكِ وَرُدِّي بَرَكَتَكِ فَيَوْمَئِذٍ تَأْكُلُ الْعِصَابَةُ مِنْ
الرُّمَّانَةِ وَيَسْتَظِلُّونَ بِقِحْفِهَا وَيُبَارَكُ فِي الرِّسْلِ حَتَّى
أَنَّ اللِّقْحَةَ مِنْ الْإِبِلِ لَتَكْفِي الْفِئَامَ مِنْ النَّاسِ
وَاللِّقْحَةَ مِنْ الْبَقَرِ لَتَكْفِي الْقَبِيلَةَ مِنْ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ
مِنْ الْغَنَمِ لَتَكْفِي الْفَخِذَ مِنْ النَّاسِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ
بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ
رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ
فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ
Artinya : “Pada
suatu hari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menjelaskan
tentang Dajjal. Sesekali beliau merendahkan suaranya, dan sesekali meninggikan
suaranya, sehingga kami menyangka Dajjal itu telah berada di tengah pepohonan
kurma. Ketika kami pergi pada beliau, maka beliau tahu ada sesuatu pada kami.
Maka beliau bertanya : ”Ada apa kalian ?”. Kami menjawab : ”Wahai
Rasulullah, tadi pagi engkau telah menjelaskan tentang Dajjal. Engkau
meninggikan dan (juga) mengeraskan suara, hingga seolah kami menyangka Dajjal
itu telah berada di tengah pepohonan kurma”. Maka beliau shallallaahu
’alaihi wasallam bersabda : ”Bukan Dajjal yang membuatku takut
atas kalian. Apabila ia keluar (muncul) dan aku bersama kalian, maka akulah
yang akan membantahnya tanpa bantuan kalian. Dan apabila ia keluar sedangkan
aku tidak ada bersama kalian, maka setiap orang membantah (melawan)
sendiri-sendiri; sedangkan Allah menjadi pelindung setiap muslim. Sungguh
Dajjal adalah seorang pemuda berambut keriting dan buta sebelah. Seakan-akan
aku menyerupakannya dengan ’Abdul-’Uzaa bin Qathan. Barangsiapa di antara
kalian mendapatkannya, maka bacakanlah kepadanya awal-awal surat Al-Kahfi. Dia
keluar di jalan antara Syam dan ’Iraq lalu membuat kerusakan di sekitarnya.
Wahai hamba Allah, istiqamahlah !”. Maka kami berkata : ”Wahai
Rasulullah, berapa lama tinggalnya di muka bumi ?”. Beliau menjawab : ”Empatpuluh
hari. Satu hari seperti satu tahun. Satu hari seperti satu bulan. Satu hari
seperti satu pekan. Dan sisanya, seperti hari-hari kalian ini”. Kami
bertanya lagi : ”Wahai Rasulullah, hari yang seperti satu tahun itu, apakah
cukup bagi kami shalat sehari ?”. Beliau menjawab : ”Tidak,
perkirakanlah ukurannya!”. Kami bertanya lagi : ”Berapa kecepatannya ?”.
Beliau menjawab : ”Seperti hujan ditiup angin, lalu (ia) mendatangi satu
kaum dan mengajak mereka. Kaum ini mempercayainya dan menerima ajakannya.
Kemudian Dajjal menyuruh langit, dan langitpun menurunkan hujan. Dan menyuruh
bumi, lalu bumi menumbuhkan tumbuhan. Lalu hewan gembalaan mereka berangkat di
sepanjang puncak gunung, sangat banyak susunya dan makan sangat kenyang.
Kemudian (ia) mendatangi kaum lainnya, lalu mendakwahi mereka, namun mereka
membantah perkataannya. Lalu ia (Dajjal) pergi meninggalkan mereka. Lalu pagi
harinya, mereka tertimpa kelaparan dan kekeringan. Mereka tidak memiliki harta
sedikitpun. Dajjal melewati tempat yang rusak tersebut dan berkata kepadanya :
’Keluarkan simpananmu !’. Lalu keluarlah harta simpanan (tanah tersebut)
seperti ratu-ratu lebah. Kemudian Dajjal memanggil seorang yang gemuk dan masih
muda. Lalu ia sembelih dengan pedang dan memotongnya menjadi dua seukuran
tombal, kemudian ia memanggilnya. Lalu pemuda itu datang dengan wajah yang
bersinar-sinar. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengutus
Al-Masih Ibnu Maryam, lalu ia turun di dekat menara putih (Al-Manarul-Baidhaa’)
di sebelah timur Damaskus. Ia mengenakan sepasang baju yang dicelup za’faran
dan meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap-sayap dua malaikat. Apabila
ia menggoyangkan kepalanya, maka meneteskan air; dan apabila mengangkatnya,
maka keluarlah dari air itu seperti batu permata. Sehingga tidaklah seorang
kafir yang mencium wangi napasnya, kecuali mati. Dan napasnya itu sepanjang
pandangannya. Lalu beliau mengejar Dajjal sampai mendapatinya di daerah Baabul-Ludd,
kemudian membunuhnya. Kemudian datang kepada ’Isa Ibnu Maryam suatu kaum yang
Allah selamatkan dari Dajjal, lalu beliau mengusap wajah-wajah mereka, dan
beliau sampaikan derajat mereka di surga. Ketika hal itu terjadi, tiba-tiba
Allah mewahyukan kepada ’Isa yang berisi : ’Aku telah mengeluarkan hamba-Ku
yang tidak ada seorangpun mampu memerangi mereka. Maka bawalah hamba-hamba-Ku
berlindung di bukit Thuur’. Allah mengutus Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka
bergerak cepat (datang) dari segala arah, sehingga rombongan pertama mereka
melewati danau Thabariyyah dan meminum habis airnya. Kemudian rombongan
terakhir mereka mengatakan : ’Sungguh dulu di tempat ini ada airnya’. Dan
megepung Nabi ’Isa dan shahabat-shahabatnya, hingga kepala sapi banteng bagi
salah seorang di antara mereka lebih baik dari seratus dinar bagi salah seorang
diantara kalian sekarang. Nabi ’Isa dan para shahabatnya berdoa kepada Allah,
lantas Allah mengirim kepada mereka (Ya’juj dan Ma’juj) ulat di leher-leher
mereka sehingga mereka semua terbunuh seperti kematian satu jiwa. Kemudian Nabi
’Isa turun bersama shahabatnya ke dataran bumi dan tidak mendapatkan sejengkal
tanahpun , kecuali dipenuhi bau busuk dan bangkai mereka. Nabi ’Isa dan para
shahabatnya berdoa kepada Allah, lantas Allah mengirim burung seperti onta
berleher panjang, lalu mengirim mereka dan melemparkan mereka ke tempat yang
Allah kehendaki. Kemudian Allah menurunkan hujan yang tidak ada satupun rumah
dari kulit domba dapat menahannya, dan tidak juga rumah batu yang kokoh, hingga
mencuci bumi sampai meninggalkannya seperti cermin. Kemudian dikatakan kepada
bumi : ”Tumbuhkan buah-buahan dan kembalikan barakahmu !”. Pada hari tersebut,
sejumlah orang memakan buah delima dan bernaung di bawah kulit-kulitnya, dan
diberi barakah pada susu, hingga susu seekor onta yang baru melahirkan
mencukupi sejumlah orang, susu seekor sapi yang baru melahirkan mencukupi satu
kabilah, dan susu seekor kambing yang baru melahirkan mencukupi satu keluarga
besar. Ketika mereka berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah mengirimkan
angin yang harum, lantas angin tersebut mengenai mereka dari bawah
ketiak-ketiak mereka, lalu setiap muslim dan mukmin wafat dan yang tersisa
orang-orang yang buruk, yang berzina terang-terangan (di khalayak ramai) seperti
kelakuan keledai. Maka pada merekalah terjadi kiamat”[4].
Allah Ta’ala telah memberikan gambaran keadaan suatu kaum yang
diberikan ilmu, namun ilmu yang ada pada mereka tidak bermanfaat. Ini adalah
ilmu yang bermanfaat pada hakikatnya, namun pemiliknya tidak mengambil manfaat
dari ilmu tersebut. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا
كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ
كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين
Artinya
: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka
tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan
Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim”. (Al-Jumu’ah: 5)
Adapun ilmu yang Allah Ta’ala sebutkan pada kedudukan tercela dan diharamkan untuk mempelajarinya dan juga mengajarkannya, yaitu ilmu sihir seperti firman-Nya :
Adapun ilmu yang Allah Ta’ala sebutkan pada kedudukan tercela dan diharamkan untuk mempelajarinya dan juga mengajarkannya, yaitu ilmu sihir seperti firman-Nya :
وَاتَّبَعُوا
مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ
وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا
أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ
مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ
وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ
وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ
اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ
أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya
: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan
Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal
Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang
kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang
diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut,
sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum
mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah
kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang
dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan
isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya
kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu
yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi,
sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab
Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat
jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka
mengetahui”. (Al-baqarah:102)
Semoga kita terhindar dari segala hasutan syetan dan dari ilmu yang
tidak bermanfaat atau pun yang hanya mendatangkan malapetaka. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi telah mengajarkan kepada kita do’a agar diberikan oleh
Allah ilmu yang bermanfaat dan jiwa yang tenang, beliau besabda:
اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ
لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَيَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسِ لاَ تَـشْبَعُ وَمِنْ
دَعْوَةٍ لاَ يَسْـتَجَابُ لَهَا
Artinya : “Ya
Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari Ilmu yang tidak bermanfaat,
dan hati yang tidak khusyu’, dan dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari do’a
yang tidak terkabulkan”[5].
No comments:
Post a Comment
"Terima kasih sudah berkunjung dan membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar" :D