Monday, April 13, 2015

Ikhlas dalam Menuntut Ilmu



KEIKHLASAN DALAM MENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu adalah salah satu ibadah yang sangat dimuliakan Allah ta’ala kepada ummat islam atasnya, karena menuntut ilmu adalah salah satu perintah Allah dan rasulnya, dan perlu kita ketahui syarat dalam sebuah ibadah adalah “niat yang ikhlas”, maka dari itu niat yang diiringi dengan keikhlasan dalam menuntut ilmu sangatlah penting dan dijadikannya diantara pondasi-pondasi dalam menuntut ilmu. Berhubungan dengan masalah niat, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ
Artinya : “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”[1].
Dalam hadist ini, menjelaskan pentingnya untuk memperbaiki niat dalam segala perbuatan, terkhususnya dalam beribadah yang diantara adalah menuntut ilmu. Niatlah yang akan menghubungkan seorang hamba kepada penciptanya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, yang dengan demikian Allah telah menjelaskan didalam al-qur’an yang berbunyi:
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (Q.S. albayyinah:5)
Berkata Aun bin Imarah : “Aku pernah mendengar Hisyam ad-Dustuwa’i berkata”:
والله ما أستطيع أن أقول أنِّي ذهبت يومًا قط أطلب الحديث أريد به وجه الله عز وجل
Artinya : “Demi Allah aku tidak mampu mengatakan bahwa aku pergi menuntut ilmu tentang hadis seharipun dengan niat mencari wajah Allah”.
Az-Zahabi berkata mengomentari perkataan ad-Dustuwa’i:
والله ولا أنا ، فقد كان السلف يطلبون العلم لله فنبلوا ، وصاروا أئمة يقتدى بهم ، وطلبه قوم منهم أولا لا لله ، وحصلوه ثم استفاقوا ، وحاسبوا أنفسهم ، فجرهم العلم إلى الإخلاص في أثناء الطريق
Artinya : “Demi Allah, akupun tidak juga pernah berani mengatakan demikian,sesungguhnya para salaf menimba ilmu benar-benar untuk Allah maka mereka menjadi mulia,mereka menjadi para ulama panutan,sebagian dari mereka awalnya menimba ilmu bukan untuk Allah, setelah mereka mendapatkannya, ilmu meluruskan niat mereka di tengah jalan”.
كما قال مجاهد و غيره: طلبنا هذا العلم و ما لنا فيه كبير النيّة, ثمّ رزق الله النية بعد, و بعضهم يقول: طلبنا هذا العلم لغير الله, فأبى أن يكون إلّا لله, فهذا أيضًا حسن. ثمّ نشروه بنية صالحة.
Artinya : “Berkata Mujahid dan yang  lainnya : “Kami menuntut ilmu ini awalnya tidak memiliki niat yang besar, kemudian belakangan Allah berikan kami niat (yang benar)”. Sebagian lainnya berkata: “Awalnya kami menimba ilmu bukan karena Allah, namun ilmu enggan dituntut kecuali hanya untuk karena Allah”. Ini adalah hal yang baik tentunya, yang membuat mereka kelak menyebarkannya dengan niat yang baik pula”[2].
Kita bisa menyaksikan kelebihan imam syafi’I dengan keahlian dan kemahirannya dalam ilmu fiqih dan ilmu-ilmu yang lainnya, sehingga sampai sekarang manusia terus mempelajari ilmunya dan memujinya. Imam syafi’I rahimahullah pernah berkata yang berkaitan dengan keikhlasannya yang berkenaan dengan ilmu:
وددْتُ أن الناس تعلّموا هذا العلم –يعني كتبه- على أن لا يُنسب إليّ منه شيءٌ
Artinya : “Aku sangat ingin manusia mempelajari ilmu ini –maksudnya kitab-kitabnya– dan mereka tidak menisbatkannya kepadaku sedikitpun”[3].
Ada sebagian orang yg menuntut ilmu dengan niat yang tidak sesuai dengan anjuran agama, tujuannya hanya untuk dunia dan dipuji oleh manusia, sehingga lupa akan hakekat dari tujuan dalam menuntut ilmu, yang akhirnya cuma kehidupan nikmat didunia sajalah yang mereka peroleh tanpa mendapatkan ganjaran dari Allah ta’ala. Oleh karena itu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan tiga hal yang berkaitan dengan niat dalam sabdanya yang berbunyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ"  :إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ، فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ".
Artinya : “Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya salah seorang yang pertama di hisab di hari kiamat adalah Pertama seorang laki-laki yang mati syahid (gugur dalam peperangan) kemudian disebutkan baginya semua kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepadanya, dan dia mebenarkannya. Kemudia Allah Subhanahu wa ta'ala bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat itu?', lelaki itu menjawab, 'Aku berperang untuk-Mu hingga aku syahid'; Allah menjawab, “Kamu berdusta, (akan tetapi sesungguhnya) engkau berperang agar orang menyebutmu pemberani, dan (orang – orang) telah menyebutkan demikian itu, kemudian diperintahkan (malaikat) agar dia diseret di atas wajahnya hingga sampai di neraka dan dilemparkan kedalamnya”.
Dan Kedua (selanjutnya adalah) seorang laki – laki yang mempelajari ilmu dan mengamalkannya serta dia membaca al-Quran, kemudian dia didatangkan, kemudian disebutkan nikmat – nikmat yang diberikan kepadanya dan dia membenarkannya. Kemudian Allah bertanya, 'Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat – nikmat itu?' lelaki itu menjawab, 'Aku mencari ilmu dan mengamalkannya/mengajarkannya, dan aku membaca al-Quran karena-Mu'. Allah berfirman, “kamu berdusta, (akan tetapi) kamu mencari ilmu itu agar disebut sebagai 'alim (orang yang berilmu), dan kamu membaca al-Quran agar orang menyebutmu qari', dan kamu telah disebut demikian itu (alim & qari')” kemudian diperintahkan (malaikat) kepadanya, agar dia diseret di atas wajahnya hingga sampai di neraka dan di masukkan kedalam neraka”.
Dan Ketiga (selanjutnya) seorang laki – laki yang diluaskan (rizkinya) oleh Allah. Dan dikaruniai berbagai harta kekayaan. Kemudian dia dihadapkan, dan disebutkan nikmat – nikmat yang diberikan kepadanya, dan dia membenarkannya. Kemudia Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, “Apa yang kamu kerjakan dengan nikmat – nikmat itu?”, lelaki itu menjawab, “Tidaklah aku meninggalkan jalan yang aku cintai selain aku menginfakkan hartaku untuk-Mu”; Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, “Kamu berdusta, tetapi kamu melakukan itu semua agar orang menyebutmu dermawan, dan kamu telah disebut demikian”. Kemudian diperankkan (malaikat) kepadanya, agar dia diseret di atas wajahnya, hingga sampai dineraka dan dimasukkan kedalam neraka”[4].
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya : “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah ‘azza wa jalla, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat”[5].
Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Artinya : “Barangsiapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka”[6].
Dari sini kita bisa mendapatkan kesimpulan. Sebuah perbuatan yang baik harus diiringi dengan tujuan dan niat baik pula, keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisah. Niat yang baik tanpa usaha yang baik atau diiringi dengan perbuatan yang buruk itu bohong, dan perbuatan atau usaha yang baik tanpa diiringi niat yang baik (niatnya buruk) itu munafiq dan perbuatannya akan sia-sia.
Ibadah yang insya Allah diterima di sisi Allah ta’ala haruslah memenuhi dua syarat, yaitu:  niat yang ikhlash dan kesesuaian dengan syari’at. Mungkin kita sering mendengar ungkapan dengan istilah al-ikhlash dan al-mutaba’ah. Untuk mengetahui kedua ini, kita bisa memperhatikan sebuah cerita dari salah satu ulama yang bernama fadhil bin ‘iyadh, beliau adalah salah seorang tokoh syeikh tarekat.
Ketika Fadhil bin `Iyadh rahimahullah membaca ayat:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
 Artinya : “(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya”. (QS. al-Mulk : 2)
Maka, beliau berkata:
( أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ )
Artinya : “(Yang lebih baik amalnya) yaitu yang paling ikhlash (murni) dan shawab (tepat)”.
Kemudian para sahabat beliau bertanya:
( يَا أَبَا عَلِيِّ، مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ! )
Artinya : “Wahai Abu Ali, apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlash dan shawab itu?”
Beliau menjawab:
( إِذَا كَانَ الْعَمَلُ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ إَذَا كَانَ للهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّوَابُ إَذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ )
Artinya : “Apabila sebuah amal khalis, tetapi tidak shawab, niscaya tidak akan diterima. Apabila sebuah amal shawab, tetapi tidak khalis, niscaya tidak diterima hingga amal tersebut khalis dan shawab. Khalis berarti amal tersebut karena Allah semata. Sedangkan shawab berarti amal tersebut berdasarkan sunnah[7].
Maka arti niat ikhlash adalah niat yang hanya mengharapkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan ganjaran-Nya, tanpa mengharapkan sesuatu selain dari-Nya. Sedangkan yang dimaksud mutaba’ah adalah beribadah sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa membuat penambahan dan perubahan-perubahan sedikitpun, baik dari segi isi, waktu, kadar maupun dari cara pelaksanaannya[8].
Oleh karena itu imam Ahmad rahimahullah juga menjelaskan bagaimana niat yang baik dalam menuntut ilmu seraya berkata:
العِلْمُ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ ". قَالُوا: كَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: "يَنْوِي رَفْعَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ غَيْرِهِ
Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang setara dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya”, mereka berkata, “Bagaimana caranya?”. Imam Ahmad berkata, “Yiatu ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga dari orang lain”[9].
Imam Ahmad berkata :
الْعِلْمُ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ، قِيْلَ : بِأَيِّ شَيْءٍ تَصِحُّ النِّيَّةُ قَالَ: يَنْوِي يَتَوَاضَعُ فِيْهِ وَيَنْفِي عَنْهُ الْجَهْلَ
Artinya : “Ilmu adalah amalan yang termulia bagi orang yang niatnya benar”
Lalu dikatakan kepada beliau, “Dengan perkara apa agar niat menjadi benar?”, Imam Ahmad berkata, “Ia niatkan untuk bersikap tawadhu pada ilmunya, dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya”[10].
Penjelasan dari imam Ahmad tentang niat dalam menuntut ilmu adalah agar seorang hamba bisa tawadhu’ serta menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain, yang dengan demikian memberikan isyarat bahwa niatnya yang baik penuh keikhlasan, tanpa menginginkan harta, martabat, atau pun jabatan. Memang benar, bahwa niat yang ikhlas banyak ujian dan cobaanya, apalagi kalau sudah dihadapkan dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang membuat mata silau terhadapnya. Niat, cinta dan iman bisa dibilang mirip bila dilihat dari segi kondisinya, bisa berubah kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu sufyan ats-tsaury menjelaskan pentingnya agar terus selalu memperhatikan niat dalam segala perbuatan. Beliau berkata:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي أَنَّهاَ تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
Artinya : “Tidak pernah aku memperbaiki sesuatu yang lebih berat bagiku dari pada niatku, karena niat selalu berubah-ubah”[11].
Semoga dengan mempelajari ini, kita bisa ikhlas dalam menuntut ilmu, semata-mata hanya karena perintah Allah dan rasulnya, tidak menginginkan segala sesuatu kecuali ridhaNya dan bisa istiqomah agar selalu ikhlas dalam segala perbuatan. Aamiin…


[1] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 54, dan hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 1907
[2] Rihlatul ulama fi thalabil ilmi, hal 51, karangan abu anas majid
[3] Rihlatul ulama fi thalabil ilmi, hal 52, karangan abu anas majid, dan hilyatul auliya’ 9/119, karangan abu nu’im
[4] Hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 1905
[5] Hadist riwayat Ahmad, Abu daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ath-Targhib: 105
[6] HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib: 106
[7] Hilyah al-Awliya’ 8/95, al-Bidayah wa an-Nihayah 10/199 dan Madarij as-Salikin 2/89.
[8] http://hendro-1945.abatasa.co.id/post/detail/5217/tanpa-judul
[9]Majmuu' Fataawaa wa Rosaail Syaikh Ibnu Al-'Utsaimiin 26/75
[10] Al-inshoof : 2/116
[11] Al-jami’ li akhlakir rawiy 1/317, al-mulim fil-aqwal al-musyawwaqah li-thalibil ‘ilmi hal 18 no 58

1 comment:

  1. Harrah's Philadelphia Casino | The drmcd
    777 Harrah's Blvd. Chester, PA, 28906. 원주 출장마사지 www.harrahscherokeelpoker.com. 의왕 출장샵 Visit Website. 안동 출장마사지 동해 출장샵 777 Harrah's Blvd Chester, PA 평택 출장샵 28906, www.harrahscherokeelpoker.com. Visit Website. 777 Harrah's Blvd Chester, PA,

    ReplyDelete

"Terima kasih sudah berkunjung dan membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar" :D