Monday, April 13, 2015

Tawadhu' (Rendah Hati)



TAWADHU’ (kerendahan hati)
Disetiap seseorang yang berakhlak mulia, disanalah terdapat kerendahan hati yang selalu menghiasi dalam setiap perilakunya. Mutawadhi’ (orang yang rendah hatinya) itu bagaikan bintang-bintang yang menghiasi langit terlihat begitu indah dan menyenangkan hati ketika memandang, bisa dilihat kilauan cahayanya dari dasar lautan, namun hakikatnya ia berasal dari atas. Namun sebaliknya, takabbur (sombong) adalah akhlak yang sangat tercela, ia bagaikan asap yang selalu ingin terlihat dikedudukan paling atas, namun hakikatnya ia berasal dari bagian bawah, ketika berada diatas ia pun akan hilang ditiup oleh angin, tidak enak dipandang dan mengganggu penglihatan serta pernapasan. Jadi, orang yang rendah hati membuat dirinya menjadi mulia dan dapat menyenangkan orang lain ketika berada disekitarnya, begitu juga sebaliknya, orang yang sombong menjadikan dirinya hina dan membuat orang lain tidak suka dan muak terhadapnya, sehingga ingin menghindar darinya.
            Orang yang berilmu, semakin banyak ia mendapatkan ilmu semakin tinggi pula kerendahan dirinya, karena ia semakin tau bahwasanya ilmu yang ia dapat sangatlah minim dari pemberian Allah ta’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya : “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Q.S. al-isra’ : 85)
Ada dalam sebuah cerita tentang nabi khidir ‘alaihis salam dengan nabi musa didalam hadist shohih yang diriwayatkan oleh imam bukhori radhiyallahu ‘anhu :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ نَوْفًا الْبَكَالِيَّ يَزْعُمُ أَنَّ مُوسَى لَيْسَ بِمُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنَّمَا هُوَ مُوسَى آخَرُ فَقَالَ كَذَبَ عَدُوُّ اللَّهِ حَدَّثَنَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مُوسَى النَّبِيُّ خَطِيبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ فَقَالَ أَنَا أَعْلَمُ فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنَّ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ قَالَ يَا رَبِّ وَكَيْفَ بِهِ فَقِيلَ لَهُ احْمِلْ حُوتًا فِي مِكْتَلٍ فَإِذَا فَقَدْتَهُ فَهُوَ ثَمَّ فَانْطَلَقَ وَانْطَلَقَ بِفَتَاهُ يُوشَعَ بْنِ نُونٍ وَحَمَلَا حُوتًا فِي مِكْتَلٍ حَتَّى كَانَا عِنْدَ الصَّخْرَةِ وَضَعَا رُءُوسَهُمَا وَنَامَا فَانْسَلَّ الْحُوتُ مِنْ الْمِكْتَلِ { فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا } وَكَانَ لِمُوسَى وَفَتَاهُ عَجَبًا فَانْطَلَقَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِمَا وَيَوْمَهُمَا فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ { آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا } وَلَمْ يَجِدْ مُوسَى مَسًّا مِنْ النَّصَبِ حَتَّى جَاوَزَ الْمَكَانَ الَّذِي أُمِرَ بِهِ فَقَالَ لَهُ فَتَاهُ { أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ } قَالَ مُوسَى { ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا } فَلَمَّا انْتَهَيَا إِلَى الصَّخْرَةِ إِذَا رَجُلٌ مُسَجًّى بِثَوْبٍ أَوْ قَالَ تَسَجَّى بِثَوْبِهِ فَسَلَّمَ مُوسَى فَقَالَ الْخَضِرُ وَأَنَّى بِأَرْضِكَ السَّلَامُ فَقَالَ أَنَا مُوسَى فَقَالَ مُوسَى بَنِي إِسْرَائِيلَ قَالَ نَعَمْ قَالَ { هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِي مِمَّا عُلِّمْتَ رَشَدًا } قَالَ { إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا } يَا مُوسَى إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ وَأَنْتَ عَلَى عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ لَا أَعْلَمُهُ { قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا } فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ لَيْسَ لَهُمَا سَفِينَةٌ فَمَرَّتْ بِهِمَا سَفِينَةٌ فَكَلَّمُوهُمْ أَنْ يَحْمِلُوهُمَا فَعُرِفَ الْخَضِرُ فَحَمَلُوهُمَا بِغَيْرِ نَوْلٍ فَجَاءَ عُصْفُورٌ فَوَقَعَ عَلَى حَرْفِ السَّفِينَةِ فَنَقَرَ نَقْرَةً أَوْ نَقْرَتَيْنِ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ الْخَضِرُ يَا مُوسَى مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا كَنَقْرَةِ هَذَا الْعُصْفُورِ فِي الْبَحْرِ
Artinya : “Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami 'Amru berkata, telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Jubair berkata, aku berkata kepada Ibnu 'Abbas, Sesungguhnya Nauf Al Bakali menganggap bahwa Musa bukanlah Musa Bani Isra'il, tapi Musa yang lain. Ibnu Abbas lalu berkata, Musuh Allah itu berdusta, sungguh Ubay bin Ka'b telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Musa Nabi Allah berdiri di hadapan Bani Isra'il memberikan khutbah, lalu dia ditanya: Siapakah orang yang paling pandai? Musa menjawab: Aku. Maka Allah Ta'ala mencelanya karena dia tidak diberi pengetahuan tentang itu. Lalu Allah Ta'ala memahyukan kepadanya: Ada seorang hamba di antara hamba-Ku yang tinggal di pertemuan antara dua lautan lebih pandai darimu. Lalu Musa berkata, Wahai Rabb, bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Maka dikatakan padanya: Bawalah ikan dalam keranjang, bila nanti kamu kehilangan ikan itu, maka itulah petunjuknya. Lalu berangkatlah Musa bersama pelayannya yang bernama Yusya' bin Nun, dan keduanya membawa ikan dalam keranjang hingga keduanya sampai pada batu besar. Lalu keduanya meletakkan kepalanya di atas batu dan tidur. Kemudian keluarlah ikan itu dari keranjang (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu) ' (Qs. Al Kahfi: 61). Kejadian ini mengherankan Musa dan muridnya, maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari perjalannannya. Hingga pada suatu pagi Musa berkata kepada pelayannya, '(Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa lelah karena perjalanan kita ini) ' (Qs. Al Kahfi: 62). Musa tidak merasakan kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang dituju sebagaimana diperintahkan. Maka muridnya berkata kepadanya: '(Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa menceritakan ikan itu. Dan tidaklah yang melupakan aku ini kecuali setan) ' (Qs. Al Kahfi: 63). Musa lalu berkata: '(Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula) ' (Qs. Al Kahfi: 64). Ketika keduanya sampai di batu tersebut, didapatinya ada seorang laki-laki mengenakan pakaian yang lebar, Musa lantas memberi salam. Khidlir lalu berkata, Bagaimana cara salam di tempatmu? Musa menjawab, Aku adalah Musa. Khidlir balik bertanya, Musa Bani Isra'il? Musa menjawab, Benar. Musa kemudian berkata: '(Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?) ' Khidlir menjawab: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku) ' (Qs. Al Kahfi: 66-67). Khidlir melanjutkan ucapannya, Wahai Musa, aku memiliki ilmu dari ilmunya Allah yang Dia mangajarkan kepadaku yang kamu tidak tahu, dan kamu juga punya ilmu yang diajarkan-Nya yang aku juga tidak tahu. Musa berkata: '(Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun) ' (Qs. Al Kahfi: 69). Maka keduanya berjalan kaki di tepi pantai sementara keduanya tidak memiliki perahu, lalu melintaslah sebuah perahu kapal. Mereka berbicara agar orang-orang yang ada di perahu itu mau membawa keduanya. Karena Khidlir telah dikenali maka mereka pun membawa keduanya dengan tanpa bayaran. Kemudian datang burung kecil hinggap di sisi perahu mematuk-matuk di air laut untuk minum dengan satu atau dua kali patukan. Khidlir lalu berkata, Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu bila dibandingkan dengan ilmu Allah tidaklah seberapa kecuali seperti patukan burung ini di air lautan.”[1].
Tawadhu’ adalah salah satu akhlak mulia dan ciri khas bagi orang yang berilmu, karena semakin banyak ilmu yang didapat, maka semakin bertambah pengetahuannya bahwa ilmu yang ia dapat sangatlah sedikit, sebagaimana yang telah diumpamakan oleh nabi khidir ‘alaihis salam kepada nabi musa ‘alaihis salam, yaitu ilmu mereka berdua bagaikan patukan burung di air dalam sebuah lautan. Ilmu tidak ada habisnya, selalu ada yang baru dan selalu ada yang belum diketahui, sehingga diatas seorang yang berilmu pasti ada lagi yang lebih berilmu darinya, karena itu sudah janji Allah ta’ala dalam firmannya yang berbunyi :
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Artinya : “dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui”. (Q.S. yusuf :76)
Dengan tawadhu’ seseorang yang berilmu akan mudah menyampaikan ilmunya kepada yang lain, perakataannya bisa dinikmati oleh para pendengar dan bisa menyentuh kalbu(hati) mereka, selalu dirindukan dan dimuliakan oleh orang lain, karena orang yang tawadhu’ mempunyai tutur kata yang baik, prilaku yang sopan dan tidak pernah meninggikan diri dari hamba Allah yang lainnya. Allah ta’ala berfirman :
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya : “Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Salah satu ciri Orang yang tawadhu’ (rendah hati) akan mendapatkan beberapa derajat disisi Allah ta’ala, selalu mulia dan dimuliakan oleh Allah dan hambanya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ.
Artinya : “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya[2].
Bahkan tawadhu’ adalah salah satu wahyu yang diperintahkan allah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
Artinya : “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain”[3].
Orang yang tawadhu’ mungkin terlihat rendah atau kecil, namun sebaliknya sesungguhnya dia sangat tinggi dan mulia. Sebagaimana dalam syair dikatakan :
تواضع تكن كالنجم لاح لناظر # على صفحات الماء وهو رفيع,
ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه # إلى طبقات الجوّ وهو وضيع.
Artinya : “Rendah hatilah laksana bintang yang kelihatan rendah bagi yang melihatnya#
Pada permukaan air padahal ia sendiri tinggi di atas sana, Janganlah anda bagaikan asap membumbung tinggi dengan sendirinya# Kelapisan-lapisan udara padahal ia sendiri hina (tidak ada apa-apanya)[4].
Dan disyair yang lain juga memerintahkan untuk bersikap tawadhu’ dalam kehidupan bermasyarakat. Karena diakhir hayat, semua orang pasti berada didalam tanah atau tempat injakannya manusia, yaitu bumi.
ولا تمش فوق الأرض إلّا تواضعا
فكم تحتها قوم هم منك أرفع
فإن كنت في عزّ وخير ومنعة
فكم مات من قوم هم منك أمنع
Artinya : “Janganlah engkau berjalan diatas bumi ini kecuali dengan ketawadhu'an.
Berapa banyak orang yang berada dibawah bumi (mayat) dari golonganmu, sedangkan mereka (dulunya) lebih tinggi (kedudukan dan kekuasaan nya) daripada engkau.
Jika engkau berada dalam kekuasaan, kebaikan dan benteng yang kokoh.
Maka berapa banyak orang yang telah mati sedangkan dia lebih kokoh (pertahanan nya) daripada dirimu”[5].
Bahkan sebagaimana yang sudah diketahui, makhluk yang paling mulia sejagat raya dan disisi Allah ta’ala serta hamba-hambanya yaitu rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selalu bersikap tawadhu’ dan tidak mau berlebih-lebihan dalam penghormatan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Artinya : “Janganlah kalian berlebihan kepadaku sebagaimana orang-orang Nasrani yang berlebihan kepada Isa bin Maryam. Sesungguhnya Aku hanyalah seorang hamba. Maka katakanlah; hamba Allah dan Rasul-Nya[6].
Sayyidah ‘aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan tentang ketawadhu’an rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikan dan menyayangi keluarganya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَىْهِ وَ سَلَّمَ يَكُونُ فِى مِهْنَةِ أَهْلِهِ- فِى خِدْمَةِ أَهْلِهِ- فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian dalam membantu urusan keluarganya. Apabila telah tiba waktu sholat, beliau bergegas pergi menuju sholat”[7].
Dalam bentuk kasih sayang terhadap keluarganya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan apa yang bisa beliau kerjakan tanpa harus menyuruh orang lain, seperti menjahit baju dan sandal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh sayyidah ‘aisyah radhiyallahu ‘anha :
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: "مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ"
Artinya : “Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember[8].
 Bahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membantu kebutuhan seorang hamba sahaya/budak untuk keperluan sang hamba sahaya tadi. Sebagaimana diriwayatkan oleh anas bin malik radhiyallahu ‘anhu berkata :
« إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ »
Artinya : “Pernah ada seorang budak yang berada dikota Madinah, menggandeng tangan Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu diajak pergi untuk membantu urusannya[9].
Dan pernah juga rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh yang baik, yaitu memberikan salam kepada kumpulan anak-anak kecil. Seketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sekumpulan anak kecil, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada mereka[10].
Dan yang terakhir tawadhu’ adalah kerendahan hati hanya karena allah ta’ala, tunduk dan patuh atas perintahnya, memandang sesamanya dengan kelebihan-kelebihan tertentu, sehingga ia pun memuliakan hamba Allah ta’ala yang lainnya, yang demikian ia akan mendapatkan kemuliaan tersendiri dan sangat berbeda bagi orang yang merendahkan dan menghina dirinya dikarenakan ingin mendapatkan kenikmatan dunia. Seperti karyaman yang merendahkan dirinya dihadapan atasannya untuk mendapatkan gaji yang lebih atau sesuatu yang ia inginkan.
Semoga kita mempunyai akhlak kerendahan hati yang tulus hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala dengan diiringi ilmu yang bermanfaat dan berkah. Amiin…


[1] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 3401,
diambil dari http://wahdahmakassar.org/Hadits%20Web%20Bukhari%20Muslim/bukhari/Ilmu.html
[2] hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 2588
[3] hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 2865
[4] Dhiyaul anwar fi fadhlil ‘ilmi wal ‘ulamail akhyar hal 85, karangan al ‘allamah al’umdah al bahhamah
[5] Fardhu thalabil ‘ilmi hal 134, karangan imam abi bakar muhammad bin husein al ajary
[6] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 3445
[7] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 676
[8] (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3602--memiliki-sifat-tawadhu.html
[9] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 6072
[10] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 6247 dan hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 2168

No comments:

Post a Comment

"Terima kasih sudah berkunjung dan membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar" :D