Monday, April 13, 2015

Ilmu dalam Pandangan Islam



ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM
Perlu kita ketahui sebagai ummat muslim, bahwasanya islam dibangun dengan berpondasikan ilmu, sebagaimana diturunkannya wahyu yang pertama kali kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisikan tentang ilmu. Allah subhanau wa ta’ala berfirman : (al ‘alaq 1-5).
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam
[1](tulis baca).
عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat ini menunjukkan bahwa menulis dan membaca adalah kunci dari ilmu pengetahuan, dengan keduanya manusia bisa mengetahui apa yang belum diketahui, dan menulis serta membaca tidak bisa dipisahkan, karena keduanya mempunyai hubungan yang erat, sebagaimana diumpamakan oleh imam syafi’I radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :
العِلْمُ  صَيْدٌ  و َالكِتَابَةُ قَيْدُهُ
Artinya : ilmu itu bagaikan alat pancing ikan, dan tulisan adalah talinya.
Jadi, bisa disimpulkan sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah kunci agama islam, dengan kunci ini manusia bisa mengetahui segala ciptaan Allah yang penuh hikmah didalamnya, bisa mengetahui arti tujuan hidup didunia dan tidak lepas juga dari pengetahuan tentang akherat. Maka selayaknyalah manusia yang diciptakan allah begitu sempurna agar selalu belajar, belajar ilmu agama, belajar arti dan tujuan hidup selama didunia, karena dunia adalah ladang untuk belajar, serta tidak lupa untuk  belajar dalam mengetahui tentang akherat yang akan kita tuju nanti, yaitu kehidupan yang abadi.
Kita bisa mengetahui dengan sejarah akan perkembangan ummat, manusia yang hidup sebelum datangnya islam dimuka bumi ini, mereka dikenal dengan “kaum jahiliyah” dan zaman kehidupannyapun dikenal dengan ‘zaman jahiliyah” yang dikarenakan oleh mereka sendiri atas perbuatan yang bersandarkan kebodohan dan hawa nafsu belaka, setelah turunnya agama islam yang bertujuan membina dan mendidik ummat kejalan yang benar yaitu jalan yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala dan mengajarkan kedamaian, dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang. Dari sini adalah bukti yang lainnya bahwa islam dibangun dengan ilmu.
Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) mana yang lebih baik daripada (hukum) Allah? Bagi orang-orang yang meyakini?” (Al Maidah: 50)
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini:
”Melalui ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengingkari perbuatan orang-orang yang keluar  dari hukum Allah hukuman yang mencakup segala kebaikan, melarang semua perbuatan jahat, lalu mereka memilih pendapat-pendapat yang lain dan kecenderungan-kecenderungannya serta peristilahan yang dibuat oleh kaum lelaki tanpa sandaran dari syari’at Allah. Orang’orang jahiliyah memutuskan perkara mereka dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat-buat sendiri oleh pendapat dan keinginan (hawa nafsu) mereka.”[1]
Maka dari itu Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam risalahnya untuk berpaling dari orang-orang yang bodoh. Allah ta’ala berfirman :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ {199}
“Jadilah pemaaf, perintahlah orang lain mengerjakan perbuatan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.s. Al-A’raf [7]:199)
Orang kafir dan kaum penentang agama allah itu hanya bersandarkan dengan perasangka tanpa ilmu yang sangat jauh dan tidak ada pengaruhnya dalam kebenaran, didalam ayat suci al-qur’an Allah berfirman :
وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا
Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.(Q.S: an najm: 28)
Sudah jelas perbedaan orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir, orang mukmin berlandaskan ilmu pengetahuan dan orang kafir berlandaskan kebodohan yang hanya dengan perasangka yang tidak ada faedah terhadap kebenaran. Maka Allah berfirman: قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)
Salah satu sudut yang harus diperhatikan ummat manusia tentang ilmu, kedudukan pentingnya ilmu bukan hanya dalam masa awal risalah rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan turunya al-qur’an saja, akan tetapi sejak mulainya diciptakan manusia sudah terbukti akan pentingnya ilmu. Sebagaimana diceritakan didalam al-qur’an surat al-baqarah ayat 30 sampai 34 yang terdapat diayat: ke 30 yang menjelaskan permulaan dalam penciptaan Adam ‘alaihis salaam, yaitu bapaknya para manusia, dan Allah Subhaanahu wa Ta’ala ketika menciptakan adam ‘alaihis salam, Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada para malaikat  tentang  kehendak Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang ingin menjadikan seorang sebagai khalifah dimuka bumi, yang dimaksud khalifah dsini nabi adam dan keturunannya(manusia) lalu para malaikat ‘alaihimus salaam berkata:
أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ
Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dengan kemaksiatan-kemaksiatan dan menumpahkan darah”? pertanyaan ini hanyalah sekedar untuk pemahaman dan pemberitahuan buakn sebuah tantangan, dan para malaikat berkata: وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau”, وَنُقَدِّسُ لَكَ “dan mensucikan Engkau. Maka Allah ta’ala berkata kepada malaikat إِنِّىٓ أَعۡلَمُ Sesungguhnya Aku mengetahui” dari maslahah khalifah ini, مَا لَا تَعۡلَمُونَ apa yang kamu tidak ketahui”, dan Allah Subhaanahu wa Ta’ala hendak memilih di antara mereka para Nabi, dan rasul-rasulnya, orang-orang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang yang shalih, dan yang lainnya yang beriman kepada Allah dan mengikuti para rasulnya.
31. Lalu Dia mengajarkan وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا  “kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya” yaitu seluruh nama-nama segala sesuatunya yang ada dimuka bumi ini, dari yang kecil sampai sesuatu yang dianggap besar.  ثُمَّ عَرَضَہُمۡ kemudian mengemukakannya”. Dia mengemukakan hal-hal yang bernama-nama tersebut, عَلَى ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ kepada para malaikat” sebagai ujian bagi mereka, apakah mereka mengetahui hal-hal yang bernama itu ataukah tidak, فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسۡمَآءِ هَـٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ “Lalu Dia berfirman, ‘Sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” Dalam perkataan dan dugaan kalian bahwasanya kalian lebih utama dari pada khalifah tersebut.
32.  قَالُواْ سُبۡحَـٰنَكَ Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau”, maksudnya kami mensucikan Engkau dari sanggahan kami terhadapMu dan penentangan kami atas perintahMu, لَا عِلۡمَ لَنَآ  “tidak ada yang kami ketahui” dengan segala bentuknya,  إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآ‌ۖ Selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami” .إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ  “SesungguhnyaEngkaulah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” Yang Maha Mengetahui adalah yang mengetahui sesuatu dalam segala ciptaanya, Yang Maha bijaksana adalah Dzat yang memiliki kebiijaksaan yaitu tidak menciptakan sesuatu kecuali ada hikmah dibaliknya, dan tidak pula Dia memerintahkan kepada sesuatu kecuali menyimpan hikmah padanya, dan keadilanyang sempurna.
Lalu mereka sadar dan mengakui ilmu Allah dan hikmahNya, dan ketidakmampuan mereka dalam mengetahui sekecil apa pun, serta pengakuan mereka terhadap keutamaan Allah kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui.
33. Saat itulah Allah berfirman, قَالَ يَـٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡ‌ۖ Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu”, yaitu nama-nama benda yang dikemukakan oleh Allah kepada para malaikat namun mereka tidak mampu akan hal itu, فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآٮِٕہِمۡ Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu” jelaslah bagi mereka keutamaan Adam ‘alaihis salaam atas mereka, dan hikmah Sang Pencipta dan ilmuNya dalam menetapkannya sebagai khalifah. قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ Allah berfirman, ‘Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi.” Yaitu apa yang tersembunyi darinya dan tidak kita lihat, maka apabila Dia mengetahui yang ghaib maka kesaksian adalah lebih utama, وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ Dan mengetahui apa yang kamu nampakkan”, وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ Dan apa yang kamu sembunyikan.”
34. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada mereka untuk bersujud kepada Adam ‘alaihis salaam sebagai suatu penghormatan atasnya, pemuliaan dan penghambaan hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, lalu mereka menaati perintah Allah tersebut dan mereka semuanya segera bersujud, إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ Kecuali Iblis; dia enggan”, dia tidak mau bersujud dan ia takabbur dari perintah Allah dan terhadap Adam ‘alaihis salaam seraya berkata: sesunggunya aku diciptakan dari api dan adam dari tanah. Yang akhirnya jelaslah saat itu awal permusuhannya(iblis) terhadap Allah dan Adam karena kekufuran dan kesombongannya[2].
Dalam ayat ini terkandung pernyataan akan keutamaan ilmu yaitu bahwasanya Allah mengemukakan kepada malaikat akan keutamaan Adam karena ilmu, dan bahwasanya ilmu itu adalah perkara yang paling baik bagi seorang hamba. Dari sini juga kita bisa menyimpulkan akan derajat para nabi lebih mulia dari pada para malaikat akan keilmuannya.
            Maka dari itu, ilmu adalah permata kehidupan manusia yang akan terus selalu ada sampai hari kiamat nanti. Dan dijadikannya ketidak adaan ilmu sebagai cirri-ciri akan datangnya hari kiamat. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang disampaikan oleh anas bin malik radhiyallahu ‘anhu:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Artinya : dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam: Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan diminumnya khamr serta praktek perzinahan secara terang-terangan[3].
Dan diangkat(dihapus) nya ilmu bukan dengan menghilangkan ilmu tersebut dari akal dan hati manusia, melainkan dihilangkan ilmu dengan mematikan para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya :“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia (Allah) mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang ulama pun (diwilayah itu), maka orang-orang mengangkat ulama dan sesepuh dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”[4].
Bahkan manusia yang lemah bisa menjadi kuat dikarenakan ilmu, dari yang terendah menjadi mulia dan terhormat karena ilmu, dan disebabkan ilmu juga kehidupan manusia menjadi bahagia. Allah ta’ala menjadikan orang berilmu untuk membawa kebenaran, kemenangan, kedamaian dan tentram. Cerita singkat dalam surat al-baqarah:247,  seorang petani yang miskin yaitu tholut, akan tetapi tholut adalah seorang yang mempunyai pikiran yang luas dan cerdas, berbadan kuat dan sehat, hatinya bersih dan suci, berbudi pekerti yang baik dan luhur, sehingga ia dipertemukan dengan nabi syamuel alaihis salam dan dijadikan raja oleh nabi untuk bani Israel sarana guna menyatukan mereka dan memerangi jalut yaitu musuh-musuh mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا  قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ  قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ  وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ  وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-baqarah:247)
 Sungguh ilmu sangatlah penting untuk ummat manusia, guna kehidupan didunia atapun diakherat kelak. Sampai Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan nabi kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummatnya agar terus selalu mencari dan menambahkan ilmunya. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman :
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya :dan katakanlah, "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku”. (Q.S: thoha: 114)
Dan selain itu juga, ilmu adalah satu-satunya warisan para nabi, ilmu juga sifatnya para nabi[5] dan yang mendapatkan warisannya adalah para ulama, sebagaimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak[6].
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberkahi ilmu yang kita dapat sehingga bisa bermanfaat untuk ummat, dan terus bertambah akan keilmuan kita. Karena ilmu yang Allah berikan kepada kita hanyalah sedikit. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: “dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Q.S: Al-isro: 8)



[1] Tafsir al qur’an al adzhim, jilid 3, hal : 57
[2] Diambil dari penjelasan tafsir al-qur’an al-adzhim, ibnu katsir, surat al-baqarah ayat 30-31
[3] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) jilid 1 no 80, hadist riwayat muslim (shohih muslim) jilid 8 no 2671
[4] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) jilid 1 no 100, hadist riwayat muslim (shohih muslim) jilid 8 no 2673
[5] Al-ilmu wa binaul umam, hal 12
[6] Hadist riwayat abu daud no 3641

No comments:

Post a Comment

"Terima kasih sudah berkunjung dan membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar" :D