Monday, April 13, 2015

Zuhud Di Dunia


ZUHUD DI DUNIA 
Pertama-tama, kita harus mengetahui makna zuhud yang sebenarnya, para ulama mengartikan zuhud berbeda-beda, Abu Sulaiman Ad Daroni mengatakan: “Para ulama berselisih paham tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian, “Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat:
أَنَّ الزُهْدَ فِي تَرْكِ مَا يُشْغِلُكَ عَنِ اللهِ
Artinya : “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah[1].
Mengenai manfaat dan anjuran untuk bersifat zuhud disebutkan dalam sebuah hadits yang berbunyi:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».
Artinya : “Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu[2].
Dalam hadits di atas terdapat dua nasehat, yaitu untuk zuhud pada dunia, ini akan membuahkan kecintaan Allah, dan zuhud pada apa yang ada di sisi manusia, ini akan mendatangkan kecintaan manusia. Keduanya haruslah kita miliki, karena sebagai manusia yang akan nantinya kembali kesisi Allah ta’ala memerlukan bekal dengan ibadah dan taat kepadaNya agar bisa mendapatkan ridha dan kasih sayangNya, begitu pula dengan kecintaan manusia, karena fitrahnya manusia adalah dengan kehidupan sosial. Yang tentunya manfaat dari keduanya sangatlah berbeda, karena kecintaan Allah sangatlah besar dan agung yang menjajikan kebahagiaan dunia akhirat, sedangkan cintanya manusia hanyalah didunia saja dan pastinya berubah-ubah dengan keadaan.
Zuhud bukan berarti harus miskin dan bukan juga tidak mempunyai harta sama sekali, tapi zuhud yang sudah dipaparkan diatas adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan diri kita dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Ada sebuah percakapan singkat dari ulama yang terdahulu.
Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fadhil berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fadhil bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok:
أنت تأمرنا بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟
Artinya :“Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarok mengatakan:
يا أبا علي، إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.
“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”[3].
Dengan pembahasan arti dari zuhud ini, bisa dapat disimpulkan ada hubungan erat dengan pembahasan yang sebelumnya, yaitu “ikhlas” dalam menuntut ilmu. Maka apabila seseorang belum ikhlas dalam menuntut ilmu yang tujuannya ingin mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dunia, ini bisa dikatakan sifat zuhudnya belum ada. Dengan mengawali sifat ikhlas, insya Allah akan timbul sifat zuhud pada diri seseorang yang dengan demikian kedua sifat ini haruslah dimilki bagi penuntut ilmu dijalan Allah.
Memang banyak penyebab-penyebab yang dapat menghilangkan sifat ikhlas dan zuhud terhadap dunia, misalnya saja uang atau perhiasan, hawa nafsunya menghiasi sifat dan hatinya dengan kilauan harta kekayaan sehingga merasa tidak puas, merasa kekurangan, iri dengan kekayaan orang lain, sehingga ingin terus menambahkan kekayaannya. Begitu juga martabat atau pun jabatan yang membuat dirinya lupa terhadap peringatan-peringatan Allah dan rasulNya, lupa dengan bahwa hidup didunia ini hanyalah sementara, lupa bahwa dunia ini hanyalah tempat menanam untuk akhirat kelak, nikmat yang sekarang tidak ada apa-apanya dengan nikmat disurga nanti.
Firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan:
وَقَالَ الَّذِي آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ (39)
Artinya : “Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (QS. Ghafir: 38-39)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)
Artinya : “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al A’laa: 16-17)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
Artinya : “Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa[4].
Dari dalil-dalil diatas bisa diketahui perbedaan yang amat jauh antara kenikmatan dunia dan akhirat, dunia hanyalah tempat perjalanan dan parkir untuk mencari bekal dikehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Kenikmatan dunia banyak macamnya, tapi sangatlah sedikit bila dibanding dengan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada hamba-hambanya dialam baqa’(akhirat).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat mengkhawatirkan dan sudah memberikan peringatan kepada ummatnya agar tidak terjerumus dalam kenikmatan duniawi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ.
Artinya : “Demi Allah!, bukanlah kefakiran (kemiskinan) yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah jika dunia dibentangkan (lebar-lebar) atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian, lalu kalian (saling) berlomba-lomba padanya sebagaimana orang-orang sebelum kalian (saling) berlomba-lomba dan (akhirnya dunia) menghancurkan kalian sebagaimana ia telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian”[5].
Inilah sebuah permasalahan yang tidak bisa ditinggal diam, tidak bisa dianggap remeh begitu saja, karena apabila seseorang menuntut ilmu atau ibadah lainnya, yang seharusnya diiringi dengan keikhlasan dan semata-mata karena Allah, tujuannya berubah menjadi untuk kenikmatan duniawi baik harta, tahta, martabat, wanita dan lainnya yang menyebabkan seorang hamba lupa terhadap kewajiban-kewajibannya kepada Allah, tuli terhadap peringatan-peringatan yang disampaikan Allah melewati rasulNya, dan mata hatinya pun juga buta akan kekuasaan Allah ta’ala yang demikian bisa menimbulkan kehancuran, kebinasaan, malapetaka atau musibah-musibah yang lainnya.
Kita bisa mencontoh salah satu ulama terdahulu yaitu ibnu mubarok, seorang pakar ulama ahli zuhud. Dan “banyak ulama menyebut Ibnu Mubarak sebagai imamnya ahli zuhud Gelar itu memang sangat layak, ia bukan saja mengetahui hakikat zuhud, akan tetapi menerapkannya dalam segenap jiwa dan raganya. Terkadang orang salah memahami makna zuhud, bahwa zuhud adalah meninggalkan dunia, hidup dalam kemiskinan, mengasingkan diri dari kehidupan sosial, lalu menggantungkan hidupnya pada belas-kasih para dermawan. Inilah zuhud yang salah.
Ibnu Mubarak adalah seorang zahid yang hartawan. Kecerdasannya dalam berbisnis berasal dari ayahnya dan gurunya Imam Abu Hanifah, yang juga seorang pebisnis sukses. Ibnu Mubarak memiliki harta yang banyak dan bisnis yang beragam. Ibnu Katsir dalam al Bidayah wa an Nihayah, menyebutkan bahwa Ibnu Mubarak memiliki modal sekitar 400 ribu Dinar. Jumlah yang sangat banyak pada waktu itu. Modal itu ia kembangkan untuk berbisnis di beberapa negeri yang ia kunjungi. Dari keuntungan bisnisnya yang berkisar sekitar 100 ribu Dinar itu ia infaq-kan semuanya di jalan Allah. Ketika ditanya mengapa ia masih berbisnis, bukankah ia mengajarkan orang untuk senantiasa zuhud pada dunia? Simaklah jawaban Ibnu Mubarak berikut ini, “aku berbisnis untuk menjaga kehormatanku dari para penguasa dan meminta-minta. Dengan harta, membantuku semakin taat kepada Allah. Tidak satu pun hak Allah yang aku ketahui, kecuali segera aku melaksanakannya”.
“Dan dari sejarah ibnu mubarok dalam menuntut ilmu, beliau melakukan perjalanan mencari ilmu keseluruh penjuru jazirah Arab. Yaman, Syam, Hijaz, Bashrah, Kuffah dan Mesir adalah negeri-negeri yang pernah didatanginya. Abu Usamah dalam Tazkiratu-l Huffadz mengatakan, “aku tidak melihat seseorang yang paling giat mencari ilmu keseluruh penjuru negeri selain Ibnu Mubarak.” Dalam riwayat lain disebutkan Ibnu Mubarak mengunjungi kurang lebih seperempat dunia untuk mencari hadist-hadist.
Disebabkan kesungguhannya mencari ilmu dan banyaknya bertemu dengan para ulama, menjadikan Ibnu Mubarak sebagai orang yang berwawasan luas. Ia dikenal sebagai ahli Hadist yang tsiqah, ahli Fiqih dan juga seorang sastrawan. Dari semua disiplin ilmu yang ia kuasai, ilmu hadist-lah yang paling menonjol darinya. Karena pengetahuannya tentang hadist yang mendalam, orang-orang menjulukinya dengan sebutan “dokter”. Kata-katanya yang termasyhur dikalangan ulama hadist yaitu, “sanad bagian dari agama. Kalaulah bukan karena sanad, niscaya orang akan berbicara semaunya.” Satu waktu ia juga mengatakan, “seorang yang menuntut ilmu tanpa sanad bagaikan naik atap tanpa memakai tangga”. Guru-gurunya dalam bidang hadist tidak terhitung, sebuah riwayat menyebutkan Ibnu Mubarak berguru kepada 800 orang ulama. Sementara itu dalam bidang fiqih ia berguru kepada Sufyan At Tsauri, Malik bin Anas dan Abu Hanifah. Karya Ibnu Mubarak yang sangat populer adalah kitab Az Zuhd”[6].
Maka dari itu orang yang berilmu (Alim) tidaklah harus miskin sehingga meminta-minta dan mengharap belas kasih orang lain, akan tetapi sebagai orang berilmu juga memerlukan harta, kehormatan, kekuatan dan yang lainnya dengan catatan semuanya untuk beribadah dijalan Allah dan tidak melalaikannya akan hak-hak serta kewajiban yang harus ia laksanakan sebagai ummat muslim.


[1] Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Hilyatul Awliya’, 9/258, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, cetakan keempat, 1405 H
[2] Hadist riwayat Ibnu Majah 4102. An-Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan
[3] Siyar A'lam An Nubala, Adz Dzahabi, 8/387, Mawqi’ Ya’sub (penomoran halaman sesuai cetakan).
[4] Hadist riwayat muslim no 2858
[5] Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 4015, 3158, dan hadist riwayat muslim (shohih muslim) no 2961
[6] http://www.nfbslembang.com/?q=node/161

No comments:

Post a Comment

"Terima kasih sudah berkunjung dan membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar" :D