ZUHUD
DI DUNIA
Pertama-tama,
kita harus mengetahui makna zuhud yang sebenarnya, para ulama mengartikan zuhud
berbeda-beda, Abu Sulaiman Ad Daroni mengatakan: “Para ulama berselisih paham
tentang makna zuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud
adalah enggan bergaul dengan manusia. Ada pula yang mengatakan, “Zuhud adalah
meninggalkan berbagai macam syahwat.” Ada pula yang memberikan pengertian,
“Zuhud adalah meninggalkan rasa kenyang” Namun definisi-definisi ini saling
mendekati. Aku sendiri berpendapat:
أَنَّ الزُهْدَ
فِي تَرْكِ مَا يُشْغِلُكَ عَنِ اللهِ
Artinya : “Zuhud
adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah”[1].
Mengenai manfaat
dan anjuran untuk bersifat zuhud disebutkan dalam sebuah hadits yang berbunyi:
عَنْ سَهْلِ
بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ
فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ
أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى
أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ ».
Artinya : “Dari
Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku
suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan
begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di
sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu”[2].
Dalam hadits di
atas terdapat dua nasehat, yaitu untuk zuhud pada dunia, ini akan
membuahkan kecintaan Allah, dan zuhud pada apa yang ada di sisi manusia,
ini akan mendatangkan kecintaan manusia. Keduanya haruslah kita miliki, karena
sebagai manusia yang akan nantinya kembali kesisi Allah ta’ala memerlukan bekal
dengan ibadah dan taat kepadaNya agar bisa mendapatkan ridha dan kasih
sayangNya, begitu pula dengan kecintaan manusia, karena fitrahnya manusia
adalah dengan kehidupan sosial. Yang tentunya manfaat dari keduanya sangatlah
berbeda, karena kecintaan Allah sangatlah besar dan agung yang menjajikan
kebahagiaan dunia akhirat, sedangkan cintanya manusia hanyalah didunia saja dan
pastinya berubah-ubah dengan keadaan.
Zuhud bukan
berarti harus miskin dan bukan juga tidak mempunyai harta sama sekali, tapi
zuhud yang sudah dipaparkan diatas adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat
melalaikan diri kita dari mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Ada sebuah
percakapan singkat dari ulama yang terdahulu.
Abul ‘Abbas As
Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali
bin Fadhil berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fadhil bin ‘Iyadh) berkata pada
Ibnul Mubarok:
أنت تأمرنا
بالزهد والتقلل، والبلغة، ونراك تأتي بالبضائع، كيف ذا ؟
Artinya :“Engkau
memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan
(tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta.
Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarok
mengatakan:
يا أبا علي،
إنما أفعل ذا لاصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين به على طاعة ربي.
“Wahai Abu ‘Ali
(yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk
menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan
kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk taat pada Rabbku”[3].
Dengan
pembahasan arti dari zuhud ini, bisa dapat disimpulkan ada hubungan erat dengan
pembahasan yang sebelumnya, yaitu “ikhlas” dalam menuntut ilmu. Maka apabila
seseorang belum ikhlas dalam menuntut ilmu yang tujuannya ingin mendapatkan
kenikmatan-kenikmatan dunia, ini bisa dikatakan sifat zuhudnya belum ada.
Dengan mengawali sifat ikhlas, insya Allah akan timbul sifat zuhud pada diri
seseorang yang dengan demikian kedua sifat ini haruslah dimilki bagi penuntut
ilmu dijalan Allah.
Memang banyak
penyebab-penyebab yang dapat menghilangkan sifat ikhlas dan zuhud terhadap
dunia, misalnya saja uang atau perhiasan, hawa nafsunya menghiasi sifat dan
hatinya dengan kilauan harta kekayaan sehingga merasa tidak puas, merasa
kekurangan, iri dengan kekayaan orang lain, sehingga ingin terus menambahkan
kekayaannya. Begitu juga martabat atau pun jabatan yang membuat dirinya lupa
terhadap peringatan-peringatan Allah dan rasulNya, lupa dengan bahwa hidup
didunia ini hanyalah sementara, lupa bahwa dunia ini hanyalah tempat menanam untuk
akhirat kelak, nikmat yang sekarang tidak ada apa-apanya dengan nikmat disurga
nanti.
Firman Allah Ta’ala
tentang orang mukmin di kalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan:
وَقَالَ الَّذِي
آَمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ (38) يَا قَوْمِ
إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ
الْقَرَارِ (39)
Artinya : “Orang
yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan
kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang
kekal”. (QS. Ghafir: 38-39)
Dalam ayat
lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
بَلْ
تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)
Artinya : “Tetapi
kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat
adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al A’laa: 16-17)
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ مَا
الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ
هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ
يَرْجِعُ
Artinya : “Demi
Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari
kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di lautan, maka
perhatikanlah apa yang dibawa”[4].
Dari
dalil-dalil diatas bisa diketahui perbedaan yang amat jauh antara kenikmatan
dunia dan akhirat, dunia hanyalah tempat perjalanan dan parkir untuk mencari
bekal dikehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Kenikmatan dunia banyak macamnya,
tapi sangatlah sedikit bila dibanding dengan kenikmatan yang dijanjikan Allah
kepada hamba-hambanya dialam baqa’(akhirat).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat mengkhawatirkan dan sudah memberikan
peringatan kepada ummatnya agar tidak terjerumus dalam kenikmatan duniawi.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ
أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ
الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا
تَنَافَسُوهَا وَتُلْهِيَكُمْ كَمَا أَلْهَتْهُمْ.
Artinya : “Demi Allah!, bukanlah kefakiran (kemiskinan) yang
aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah jika dunia
dibentangkan (lebar-lebar) atas kalian sebagaimana telah dibentangkan atas
orang-orang sebelum kalian, lalu kalian (saling) berlomba-lomba padanya
sebagaimana orang-orang sebelum kalian (saling) berlomba-lomba dan (akhirnya
dunia) menghancurkan kalian sebagaimana ia telah menghancurkan orang-orang
sebelum kalian”[5].
Inilah sebuah
permasalahan yang tidak bisa ditinggal diam, tidak bisa dianggap remeh begitu
saja, karena apabila seseorang menuntut ilmu atau ibadah lainnya, yang
seharusnya diiringi dengan keikhlasan dan semata-mata karena Allah, tujuannya berubah
menjadi untuk kenikmatan duniawi baik harta, tahta, martabat, wanita dan
lainnya yang menyebabkan seorang hamba lupa terhadap kewajiban-kewajibannya
kepada Allah, tuli terhadap peringatan-peringatan yang disampaikan Allah
melewati rasulNya, dan mata hatinya pun juga buta akan kekuasaan Allah ta’ala
yang demikian bisa menimbulkan kehancuran, kebinasaan, malapetaka atau
musibah-musibah yang lainnya.
Kita
bisa mencontoh salah satu ulama terdahulu yaitu ibnu mubarok, seorang pakar
ulama ahli zuhud. Dan “banyak ulama menyebut Ibnu Mubarak sebagai imamnya ahli
zuhud Gelar itu memang
sangat layak, ia bukan saja mengetahui hakikat zuhud, akan tetapi menerapkannya
dalam segenap jiwa dan raganya. Terkadang orang salah memahami makna zuhud,
bahwa zuhud adalah meninggalkan dunia, hidup dalam kemiskinan, mengasingkan
diri dari kehidupan sosial, lalu menggantungkan hidupnya pada belas-kasih para
dermawan. Inilah zuhud yang salah.
Ibnu
Mubarak adalah seorang zahid yang hartawan. Kecerdasannya dalam berbisnis
berasal dari ayahnya dan gurunya Imam Abu Hanifah, yang juga seorang pebisnis
sukses. Ibnu Mubarak memiliki harta yang banyak dan bisnis yang beragam. Ibnu
Katsir dalam al Bidayah wa an Nihayah, menyebutkan bahwa Ibnu Mubarak memiliki
modal sekitar 400 ribu Dinar. Jumlah yang sangat banyak pada waktu itu. Modal
itu ia kembangkan untuk berbisnis di beberapa negeri yang ia kunjungi. Dari
keuntungan bisnisnya yang berkisar sekitar 100 ribu Dinar itu ia infaq-kan
semuanya di jalan Allah. Ketika ditanya mengapa ia masih berbisnis, bukankah
ia mengajarkan orang untuk senantiasa zuhud pada dunia? Simaklah jawaban Ibnu
Mubarak berikut ini, “aku berbisnis untuk menjaga kehormatanku dari para
penguasa dan meminta-minta. Dengan harta, membantuku semakin taat kepada Allah.
Tidak satu pun hak Allah yang aku ketahui, kecuali segera aku melaksanakannya”.
“Dan dari
sejarah ibnu mubarok dalam menuntut ilmu, beliau melakukan perjalanan mencari ilmu keseluruh penjuru
jazirah Arab. Yaman, Syam, Hijaz, Bashrah, Kuffah dan Mesir adalah
negeri-negeri yang pernah didatanginya. Abu Usamah dalam Tazkiratu-l Huffadz
mengatakan, “aku tidak melihat seseorang yang paling giat mencari ilmu
keseluruh penjuru negeri selain Ibnu Mubarak.” Dalam riwayat lain disebutkan
Ibnu Mubarak mengunjungi kurang lebih seperempat dunia untuk mencari
hadist-hadist.
Disebabkan
kesungguhannya mencari ilmu dan banyaknya bertemu dengan para ulama, menjadikan
Ibnu Mubarak sebagai orang yang berwawasan luas. Ia dikenal sebagai ahli Hadist
yang tsiqah, ahli Fiqih dan juga seorang sastrawan. Dari semua disiplin ilmu
yang ia kuasai, ilmu hadist-lah yang paling menonjol darinya. Karena
pengetahuannya tentang hadist yang mendalam, orang-orang menjulukinya dengan
sebutan “dokter”. Kata-katanya yang termasyhur dikalangan ulama hadist yaitu, “sanad
bagian dari agama. Kalaulah bukan karena sanad, niscaya orang akan berbicara
semaunya.” Satu waktu ia juga mengatakan, “seorang yang menuntut ilmu tanpa
sanad bagaikan naik atap tanpa memakai tangga”. Guru-gurunya dalam bidang
hadist tidak terhitung, sebuah riwayat menyebutkan Ibnu Mubarak berguru kepada
800 orang ulama. Sementara itu dalam bidang fiqih ia berguru kepada Sufyan At
Tsauri, Malik bin Anas dan Abu Hanifah. Karya Ibnu Mubarak yang sangat populer
adalah kitab Az Zuhd”[6].
Maka dari
itu orang yang berilmu (Alim) tidaklah harus miskin sehingga meminta-minta dan
mengharap belas kasih orang lain, akan tetapi sebagai orang berilmu juga
memerlukan harta, kehormatan, kekuatan dan yang lainnya dengan catatan semuanya
untuk beribadah dijalan Allah dan tidak melalaikannya akan hak-hak serta
kewajiban yang harus ia laksanakan sebagai ummat muslim.
[1] Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Hilyatul
Awliya’, 9/258, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, cetakan keempat, 1405 H
[4]
Hadist riwayat muslim no 2858
[5]
Hadist riwayat bukhori (fathul bari) no 4015, 3158, dan hadist riwayat muslim
(shohih muslim) no 2961
[6]
http://www.nfbslembang.com/?q=node/161
No comments:
Post a Comment
"Terima kasih sudah berkunjung dan membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar" :D